Terngiang dentingan piano yang kau mainkan untukku.
Melodi yang mengalun mengiringi nada yang terdengar lembut.
Senyummu untukku membuatku tersenyum sendiri di tengah harmoni.
Pandanganmu membekukan pandanganku ke dalam matamu.
Kupejamkan mataku, menghindari pandanganmu.
Merasuki setiap melodi dengan tempo yang sempurna, mengartikan berjuta kata yang tak pernah terucap.
Teringat setiap kata yang pernah kau ucapkan.
Caramu memanggil namaku dengan nada yang kusuka.
Kalimat yang tertata rapi selalu berhasil membuatku mengabadikannya.
Lelucon yang mengukir senyum pada bibirku di saat aku sedih.
Janji yang begitu saja terucap, aneh.
Tercium wangi tubuhmu saat kau tak ada di dekatku.
Tersentuh sentuhan tanganmu saat tak ada seorangpun di sisiku, tidak juga kamu.
Terdengar suara tawamu saat kau berada di seberang samudera.
Terasa gerak gerikmu tak bisa diam saat kau sudah terlelap entah di mana.
Tapi yang kutahu, kau selalu di sini.
Menghantui bayanganku.
Merasuki pikiranku.
Membeku dalam hatiku.
Meleburkan imajinasiku.
Tuesday, December 28, 2010
Tuesday, December 21, 2010
Kenapa aku harus bertahan?
Ketika kuketuk, katanya, hilangkanlah perasaan itu. Ketika kupikir, benar juga. Kenapa harus bertahan? Saat aku tahu bahwa segalanya tidak mungkin? Mulut berkata, ya, tidak perlu dipertahankan. Semua akan sia-sia. Tapi hati menjerit. Dia alasanku untuk bertahan di sini. Dia yang mengajarkanku bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, pertama kalinya. Dia menunjukkanku apa itu cinta. Awalnya aku ragu, benarkah itu cinta? Atau hanya sekedar, sugesti yang mengaku bahwa itu cinta?
Lalu seperti yang setiap saat terjadi, waktu terus berlalu. Sempat memutuskan bahwa itu bukan cinta, lalu berpaling. Dan tersadar, berpaling bukan cinta. Berpaling, pelampiasan. Saat dia menjauh dan memberi jarak pada hubungan. Mungkin, pembalasan dendam. Ingin menunjukkan bahwa ia bukan satu-satunya. Lalu aku terbangun, tersadar bahwa aku sedang berada dalam alam mimpi.
Pertanyaan itu mengambang sekali lagi, kenapa harus bertahan? Kupikir lagi, karena aku masih berharap. Berharap apa? Berharap bahwa dialah yang kutunggu. Dialah satu-satunya. Orang yang bisa menemaniku, setiap saat. Orang yang paling mengertiku. Dan yang paling penting, tak ada yang mencintaiku seperti ia mencintaiku dulu. Segala yang ada padanya, seakan-akan sempurna, padahal kutahu, ia sama sekali tidak sempurna. Bagiku, kekurangannya adalah kesempurnaannya.
Aku merindukan setiap saat yang pernah kulalui bersamanya. Setiap detiknya. Genggaman tangannya. Wangi tubuhnya. Senyumnya. Caranya memanggil namaku. Caranya berbicara padaku. Setiap kata yang diucapkan padaku. Bagaimana ia membuatku tersenyum saat aku sedih. Bagaiman ia selalu membuatku nyaman saat berada di dekatnya. Bagaimana rasanya selalu ingin bersamanya. Dan setiap aku melihat tawanya. Tapi kali ini, tiada lagi cara ia membuatku tersenyum saat aku sedih. Kali ini, ia membuatku menangis. Mengetahui bahwa tiada lagi mimpi indah seperti sebelumnya.
Dan mungkin, untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Ia yang mengajarkan aku bagaimana mencintai. Ia yang menunjukkan padaku bagaimana rasanya dicintai. Tidak banyak yang aku inginkan. Aku hanya ingin, ia membiarkan aku bertahan. Menunggu. Aku tidak ingin melupakan apapun. Karena kenangan-kenangan itu yang paling berharga dalam hidupku. Kalau saja ia tak pernah mengajarkan dan menunjukkanku, aku takkan tegar seperti ini sekarang.
Dulu, aku berharap, ia yang pertama, dan terakhir. Kini, aku tak lagi mengharapkan apapun.
Lalu seperti yang setiap saat terjadi, waktu terus berlalu. Sempat memutuskan bahwa itu bukan cinta, lalu berpaling. Dan tersadar, berpaling bukan cinta. Berpaling, pelampiasan. Saat dia menjauh dan memberi jarak pada hubungan. Mungkin, pembalasan dendam. Ingin menunjukkan bahwa ia bukan satu-satunya. Lalu aku terbangun, tersadar bahwa aku sedang berada dalam alam mimpi.
Pertanyaan itu mengambang sekali lagi, kenapa harus bertahan? Kupikir lagi, karena aku masih berharap. Berharap apa? Berharap bahwa dialah yang kutunggu. Dialah satu-satunya. Orang yang bisa menemaniku, setiap saat. Orang yang paling mengertiku. Dan yang paling penting, tak ada yang mencintaiku seperti ia mencintaiku dulu. Segala yang ada padanya, seakan-akan sempurna, padahal kutahu, ia sama sekali tidak sempurna. Bagiku, kekurangannya adalah kesempurnaannya.
Aku merindukan setiap saat yang pernah kulalui bersamanya. Setiap detiknya. Genggaman tangannya. Wangi tubuhnya. Senyumnya. Caranya memanggil namaku. Caranya berbicara padaku. Setiap kata yang diucapkan padaku. Bagaimana ia membuatku tersenyum saat aku sedih. Bagaiman ia selalu membuatku nyaman saat berada di dekatnya. Bagaimana rasanya selalu ingin bersamanya. Dan setiap aku melihat tawanya. Tapi kali ini, tiada lagi cara ia membuatku tersenyum saat aku sedih. Kali ini, ia membuatku menangis. Mengetahui bahwa tiada lagi mimpi indah seperti sebelumnya.
Dan mungkin, untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Ia yang mengajarkan aku bagaimana mencintai. Ia yang menunjukkan padaku bagaimana rasanya dicintai. Tidak banyak yang aku inginkan. Aku hanya ingin, ia membiarkan aku bertahan. Menunggu. Aku tidak ingin melupakan apapun. Karena kenangan-kenangan itu yang paling berharga dalam hidupku. Kalau saja ia tak pernah mengajarkan dan menunjukkanku, aku takkan tegar seperti ini sekarang.
Dulu, aku berharap, ia yang pertama, dan terakhir. Kini, aku tak lagi mengharapkan apapun.
Menguasai dan dikuasai waktu
Angin tetap bergulir, coba rasakan kehangatannya. Aku tidak bisa. Tetap saja rasa dingin merasuk kulitku. Menembus pori-pori. Merajam setiap syaraf. Membekukanku seketika. Kenapa tidak membekukan waktu saja, pikirku.
Ah, bermimpilah terus. Mana mungkin waktu membeku. Jika membeku, mau apa? Aku takkan pernah menjadi dewasa. Kalau aku terus ingin waktu membeku, akan jadi apa aku nanti, akupun tak tahu. Tapi kalau waktu berputar lebih lambat, memang menyenangkan. Menghabiskan waktu melepas rindu bersama teman-temanku. Tapi saat menghadapi yang tak pernah aku suka, aku ingin waktu dipercepat juga. Memang manusia banyak maunya.
Lalu, aku ingin dapat menguasai waktu. Memperlambat dan mempercepatnya sesuka hatiku. Kapanpun aku mau. Dimanapun, bagaimanapun. Andai aku bisa, pasti segalanya akan lebih mudah. Kalau kupikir-pikir kembali. Sebenarnya hidup kita ditentukan oleh waktu. Seberapa lama kita dapat bertahan. Dan saat waktumu habis, tak perlu lagi berpikir, bagaimana, apa, atau, harus seperti apa. Tapi, saat waktu masih ada, seringkali terlalu banyak berpikir bagaimana, dan apa. Sehingga seluruh waktu terkuras untuk berpikir. Menghanyutkan semangat. Tenaga habis untuk berpikir. Dan semuanya hanya pikiran, imajinasi. Bukan realita. Seharusnya bisa dijadikan nyata, tapi kita terlalu menghabiskan tenaga pada pikiran.
Ah, bermimpilah terus. Mana mungkin waktu membeku. Jika membeku, mau apa? Aku takkan pernah menjadi dewasa. Kalau aku terus ingin waktu membeku, akan jadi apa aku nanti, akupun tak tahu. Tapi kalau waktu berputar lebih lambat, memang menyenangkan. Menghabiskan waktu melepas rindu bersama teman-temanku. Tapi saat menghadapi yang tak pernah aku suka, aku ingin waktu dipercepat juga. Memang manusia banyak maunya.
Lalu, aku ingin dapat menguasai waktu. Memperlambat dan mempercepatnya sesuka hatiku. Kapanpun aku mau. Dimanapun, bagaimanapun. Andai aku bisa, pasti segalanya akan lebih mudah. Kalau kupikir-pikir kembali. Sebenarnya hidup kita ditentukan oleh waktu. Seberapa lama kita dapat bertahan. Dan saat waktumu habis, tak perlu lagi berpikir, bagaimana, apa, atau, harus seperti apa. Tapi, saat waktu masih ada, seringkali terlalu banyak berpikir bagaimana, dan apa. Sehingga seluruh waktu terkuras untuk berpikir. Menghanyutkan semangat. Tenaga habis untuk berpikir. Dan semuanya hanya pikiran, imajinasi. Bukan realita. Seharusnya bisa dijadikan nyata, tapi kita terlalu menghabiskan tenaga pada pikiran.
Saturday, December 18, 2010
Hariku milikmu
Hari ini.
Lagi-lagi hari ini milikku. Atau milikmu kah?
Kenapa kamu yang ada dalam pikiranku?
Setiap selangkah yang kulalui, yang kupikirkan hanya satu.
Aku ingin bertemu denganmu.
Mungkinkah?
Seandainya saja kamu ada di sisiku.
Bolehkah?
Atau kamu menggenggam erat tanganku.
Pantaskah?
Dan aku merindukanmu.
Wajarkah?
Gilakah aku akan dirimu?
Seakan dirimu yang paling berarti dalam hidupku.
Satu-satunya yang kuinginkan sepanjang pilihanku.
Aku ingin tahu, penasaran tepatnya.
Apakah kamu merindukanku?
Akankah kamu menjawab pertanyaan sederhana ini dengan jawaban yang sederhana?
Aku hanya ingin jawaban “ya” atau “tidak”.
Bukan jawaban rumit yang tidak ingin kudengar,
bahkan sebelum kata-kata itu keluar dari mulutmu.
“Aku tidak pernah memikirkannya.”
Mengapa tidak kamu jawab saja dengan kata-kata yang lebih sederhana dan singkat?
Aku jadi tidak lagi mempunyai keberanian untuk bertanya kepadamu.
Apakah kamu merindukanku?
Apakah kamu masih menyayangiku?
Atau cintakah?
Lagi-lagi hari ini milikku. Atau milikmu kah?
Kenapa kamu yang ada dalam pikiranku?
Setiap selangkah yang kulalui, yang kupikirkan hanya satu.
Aku ingin bertemu denganmu.
Mungkinkah?
Seandainya saja kamu ada di sisiku.
Bolehkah?
Atau kamu menggenggam erat tanganku.
Pantaskah?
Dan aku merindukanmu.
Wajarkah?
Gilakah aku akan dirimu?
Seakan dirimu yang paling berarti dalam hidupku.
Satu-satunya yang kuinginkan sepanjang pilihanku.
Aku ingin tahu, penasaran tepatnya.
Apakah kamu merindukanku?
Akankah kamu menjawab pertanyaan sederhana ini dengan jawaban yang sederhana?
Aku hanya ingin jawaban “ya” atau “tidak”.
Bukan jawaban rumit yang tidak ingin kudengar,
bahkan sebelum kata-kata itu keluar dari mulutmu.
“Aku tidak pernah memikirkannya.”
Mengapa tidak kamu jawab saja dengan kata-kata yang lebih sederhana dan singkat?
Aku jadi tidak lagi mempunyai keberanian untuk bertanya kepadamu.
Apakah kamu merindukanku?
Apakah kamu masih menyayangiku?
Atau cintakah?
Friday, December 17, 2010
This is my desire
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Pengkhotbah 3:11
He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end. Ecclesiastes 3:11
Well, bagaimanapun ayat ini adalah ayat pertama yang benar-benar mengubah hidupku.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Saat aku jatuh, Ia membiarkan aku terjatuh,
kenapa?
Mempelajari segala sesuatu yang dianggapNya perlu kupelajari.
Sehingga aku tidak akan terjatuh untuk yang kedua kalinya.
Ia menyelamatkan aku tepat pada waktunya.
Hari ini.
Rasanya hatiku tersentuh.
Seakan-akan aku mendengar suaraNya, "percayalah."
Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Apakah aku harus percaya?
Masih ragu, ragu-ragu aku percaya.
Dulu hidupku rasanya sempurna.
Segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang kubayangkan.
Nyaris sempurna.
Tapi sekarang, nyaris mati.
Mungkin kata yang lebih tepat, nyaris hopeless.
Tidak ada tujuan yang jelas.
Yang jelas, terombang ambing.
Tertarik kesana, didorong lagi kesini.
Disuruh begini, lalu katanya, harusnya begitu.
Bingung? Sangat.
Lalu aku bertanya lagi, mungkin kalian menganggapku gila, aku bertanya pada diriku sendiri, sering berbicara sendiri, mungkin setiap saat.
Apa yang akan aku lakukan?
Bagaimana caranya?
Kapan?
Sampai kapan?
Bodoh memang, tapi apa lagi yang bisa kulakukan?
Bertanya kepada Tuhan, tidak ada jawaban.
Kalau percaya, belum ada.
Aneh.
Kenapa Tuhan ga membuat hidupku seperti dulu?
Nyaris sempurna, tujuan dan arah yang jelas.
Seperti yang kuimpikan?
Dulu, ya.
Sekarang, tidak.
Tapi ada lagi yang kudengar, "jalankan saja."
Lalu kujalani saja.
Sekarang, tetap saja kembali.
Pilihan.
Bodoh sekali.
Aku lupa kalau dalam hidup, tetap ada beberapa pilihan.
Dan pada saat yang tepat, harus memilih.
Kalau tidak tepat, berantakan.
Kalau tepat, hidupmu menuju nyaris sempurna.
Tapi perbandingannya seperti 1:100.
1 pilihan tepat, 100 pilihan tidak tepat.
Rentan, memang.
Pilihan ini seperti, hmm,, menembak dengan menutup mata?
Tidak, aku rasa lebih parah lagi.
Ini masalah mempertaruhkan masa depan.
Seumur hidupmu, untuk membunuh waktumu hingga waktu di dunia habis.
Bukan sekedar mempertaruhkan nyawa.
Ini lebih, jauh lebih penting dan, sensitif?
Untuk kesekian kalinya, tetap saja, akan kubiarkan cerita ini mengambang dulu.
Lord I give You my heart, I give You my soul, I live for You alone.
Every breath that I take, every moment I'm awake, Lord have Your way in me.
I believe in You Lord.
Hold my hands, cuddle me, and take me to the place where I belong.
He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end. Ecclesiastes 3:11
Well, bagaimanapun ayat ini adalah ayat pertama yang benar-benar mengubah hidupku.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Saat aku jatuh, Ia membiarkan aku terjatuh,
kenapa?
Mempelajari segala sesuatu yang dianggapNya perlu kupelajari.
Sehingga aku tidak akan terjatuh untuk yang kedua kalinya.
Ia menyelamatkan aku tepat pada waktunya.
Hari ini.
Rasanya hatiku tersentuh.
Seakan-akan aku mendengar suaraNya, "percayalah."
Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Apakah aku harus percaya?
Masih ragu, ragu-ragu aku percaya.
Dulu hidupku rasanya sempurna.
Segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang kubayangkan.
Nyaris sempurna.
Tapi sekarang, nyaris mati.
Mungkin kata yang lebih tepat, nyaris hopeless.
Tidak ada tujuan yang jelas.
Yang jelas, terombang ambing.
Tertarik kesana, didorong lagi kesini.
Disuruh begini, lalu katanya, harusnya begitu.
Bingung? Sangat.
Lalu aku bertanya lagi, mungkin kalian menganggapku gila, aku bertanya pada diriku sendiri, sering berbicara sendiri, mungkin setiap saat.
Apa yang akan aku lakukan?
Bagaimana caranya?
Kapan?
Sampai kapan?
Bodoh memang, tapi apa lagi yang bisa kulakukan?
Bertanya kepada Tuhan, tidak ada jawaban.
Kalau percaya, belum ada.
Aneh.
Kenapa Tuhan ga membuat hidupku seperti dulu?
Nyaris sempurna, tujuan dan arah yang jelas.
Seperti yang kuimpikan?
Dulu, ya.
Sekarang, tidak.
Tapi ada lagi yang kudengar, "jalankan saja."
Lalu kujalani saja.
Sekarang, tetap saja kembali.
Pilihan.
Bodoh sekali.
Aku lupa kalau dalam hidup, tetap ada beberapa pilihan.
Dan pada saat yang tepat, harus memilih.
Kalau tidak tepat, berantakan.
Kalau tepat, hidupmu menuju nyaris sempurna.
Tapi perbandingannya seperti 1:100.
1 pilihan tepat, 100 pilihan tidak tepat.
Rentan, memang.
Pilihan ini seperti, hmm,, menembak dengan menutup mata?
Tidak, aku rasa lebih parah lagi.
Ini masalah mempertaruhkan masa depan.
Seumur hidupmu, untuk membunuh waktumu hingga waktu di dunia habis.
Bukan sekedar mempertaruhkan nyawa.
Ini lebih, jauh lebih penting dan, sensitif?
Untuk kesekian kalinya, tetap saja, akan kubiarkan cerita ini mengambang dulu.
Lord I give You my heart, I give You my soul, I live for You alone.
Every breath that I take, every moment I'm awake, Lord have Your way in me.
I believe in You Lord.
Hold my hands, cuddle me, and take me to the place where I belong.
Monday, December 13, 2010
Control and Drive
Dan semuanya terombang-ambing. Ntah harus kemana aku berjalan. Bukan berjalan, tapi berlari. Sudah tidak cukup banyak waktu untuk memilih. Sudah dekat. Sebentar lagi persimpangan. Tidak banyak lagi waktu untuk berpikir. Akankah aku tetap bertahan di sini sampai aku mendapatkan sesuatu yang melekat padaku seumur hidupku? Atau aku akan pergi dan meraih sesuatu yang lain untuk melekat di hidupku.
Sebenarnya bukan buruk jika aku memilih untuk bertahan. Hanya saja, ah, lagi-lagi kebencian ini menyerang. Merasuki setiap pikiran dan hatiku untuk membenci. Bukan hanya itu, ketidakpuasan merajam. Aku ingin diriku puas dengan pilihanku, bukan pilihan hidup. Tapi rasanya, hidup merajarela. Pilihan terlepas dari tanganku. Seakan-akan inilah jalanku. Benarkah?
Katakanlah, katakan padaku. Apa yang akan kau beri? Apa yang akan kau pilihkan untukku? Jalan mana yang harus kutempuh? Bisikkanlah. Beritahukan aku. Jangan biarkan aku tanpa arah. Kemana lorong ini membawaku? Kenapa belum ada cahaya yang membimbingku keluar? Dimana bintangku? Tunjukkan padaku. Jangan lagi mengulur waktu ini. Hei. Berhenti di sana. Cukup mempermainkanku. Waktu terus berdetak. Dengarkah? Detakan jarum jam yang terhentak berhenti dan berjalan. Tidak pernah berhenti - yah, kecuali kehabisan baterai. Cepat.
Apakah kau tuli? Ataukah bisu? Kenapa tidak memberitahuku? Kini kau yang berkuasa atasku. Biasanya, aku yang berkuasa. Kini, aku hanya dapat pasrah. Terserah apa yang akan kuterima. Terserah kau meu memvonisku bagaimana. Tapi, paling tidak. Tunjukkanlah. Berikan sebuah petunjuk. Bertahan, atau tinggalkan. Itu saja. Tidak ada yang lain.
Ngomong-ngomong, siapa kau? Mengapa kau berhak mengobrak-abrik hidupku? Biarkan aku yang menentukan. Bagaimana? Tahun lalu, kau yang menentukan, kali ini, berikan padaku. Ini setir hidupku. Kau mobilnya, aku supirnya. Aku yang menentukan arah. Rem dan gas, aku yang mengatur. Kapan aku harus kencang, dan kapan aku harus pelan, biarkan aku mengatur kopling. Kau hanya perlu menjadi tempatku bertopang, dan siapkan tenagamu untuk melaju lebih cepat, atau kau akan cepat aus. Ingat, aku supirnya. Kau ikuti saja kemana aku memutar setirku, secepat apa aku mengatur persenelingmu. Bagaimana kalau kita jalan sekarang? Yang paling penting, kita harus bekerja sama.
Kalau aku ke kiri, putar ban mu ke kiri. Agar seluruh tubuhmu ikut ke kiri. Kalau aku ke kanan, putar juga ke kanan. Jangan sampai putar ke kiri. Jangan sampai salah. Fokuskan tujuanku. Aku takkan salah arah. Percayakan padaku. Aku tahu yang terbaik untukku. Bukan kau, ataupun dia. Bukan siapa-siapa. Hanya aku. Aku tahu keadaanku. Aku tahu sampai mana kemampuanku. Aku tahu. Jangan berlagak kau lebih tahu diriku daripada aku. Aku yang lebih tahu. Aku yang akan mengatur jalan hidupku. Kemana aku harus bergerak, dan bagaimana aku harus berjalan. Atau berapa lama aku harus berada di jalan ini. Semuanya sudah kuperhitungkan. Tunggu saja tangal mainnya.
Sebenarnya bukan buruk jika aku memilih untuk bertahan. Hanya saja, ah, lagi-lagi kebencian ini menyerang. Merasuki setiap pikiran dan hatiku untuk membenci. Bukan hanya itu, ketidakpuasan merajam. Aku ingin diriku puas dengan pilihanku, bukan pilihan hidup. Tapi rasanya, hidup merajarela. Pilihan terlepas dari tanganku. Seakan-akan inilah jalanku. Benarkah?
Katakanlah, katakan padaku. Apa yang akan kau beri? Apa yang akan kau pilihkan untukku? Jalan mana yang harus kutempuh? Bisikkanlah. Beritahukan aku. Jangan biarkan aku tanpa arah. Kemana lorong ini membawaku? Kenapa belum ada cahaya yang membimbingku keluar? Dimana bintangku? Tunjukkan padaku. Jangan lagi mengulur waktu ini. Hei. Berhenti di sana. Cukup mempermainkanku. Waktu terus berdetak. Dengarkah? Detakan jarum jam yang terhentak berhenti dan berjalan. Tidak pernah berhenti - yah, kecuali kehabisan baterai. Cepat.
Apakah kau tuli? Ataukah bisu? Kenapa tidak memberitahuku? Kini kau yang berkuasa atasku. Biasanya, aku yang berkuasa. Kini, aku hanya dapat pasrah. Terserah apa yang akan kuterima. Terserah kau meu memvonisku bagaimana. Tapi, paling tidak. Tunjukkanlah. Berikan sebuah petunjuk. Bertahan, atau tinggalkan. Itu saja. Tidak ada yang lain.
Ngomong-ngomong, siapa kau? Mengapa kau berhak mengobrak-abrik hidupku? Biarkan aku yang menentukan. Bagaimana? Tahun lalu, kau yang menentukan, kali ini, berikan padaku. Ini setir hidupku. Kau mobilnya, aku supirnya. Aku yang menentukan arah. Rem dan gas, aku yang mengatur. Kapan aku harus kencang, dan kapan aku harus pelan, biarkan aku mengatur kopling. Kau hanya perlu menjadi tempatku bertopang, dan siapkan tenagamu untuk melaju lebih cepat, atau kau akan cepat aus. Ingat, aku supirnya. Kau ikuti saja kemana aku memutar setirku, secepat apa aku mengatur persenelingmu. Bagaimana kalau kita jalan sekarang? Yang paling penting, kita harus bekerja sama.
Kalau aku ke kiri, putar ban mu ke kiri. Agar seluruh tubuhmu ikut ke kiri. Kalau aku ke kanan, putar juga ke kanan. Jangan sampai putar ke kiri. Jangan sampai salah. Fokuskan tujuanku. Aku takkan salah arah. Percayakan padaku. Aku tahu yang terbaik untukku. Bukan kau, ataupun dia. Bukan siapa-siapa. Hanya aku. Aku tahu keadaanku. Aku tahu sampai mana kemampuanku. Aku tahu. Jangan berlagak kau lebih tahu diriku daripada aku. Aku yang lebih tahu. Aku yang akan mengatur jalan hidupku. Kemana aku harus bergerak, dan bagaimana aku harus berjalan. Atau berapa lama aku harus berada di jalan ini. Semuanya sudah kuperhitungkan. Tunggu saja tangal mainnya.
Tuesday, December 7, 2010
Sea Wishper
Kini berlayar,
terombang ambing,
menuju ke depan,
lalu berhenti.
Membelokkan haluan,
mengubah tujuan.
Badai menerpa,
guntur berbisik,
"kembalilah, putar".
Hati meronta,
"tidak".
Namun badai mengamuk,
melenyapkan arah,
membutakan pandangan,
mengguncangkan tujuan.
Lalu apa yang terjadi?
Bagaimana seterusnya?
Apa yang harus dilakukan?
Menunggu.
Menunggu dan diam?
Itu saja?
Ya.
Sampai guntur berbisik kembali.
terombang ambing,
menuju ke depan,
lalu berhenti.
Membelokkan haluan,
mengubah tujuan.
Badai menerpa,
guntur berbisik,
"kembalilah, putar".
Hati meronta,
"tidak".
Namun badai mengamuk,
melenyapkan arah,
membutakan pandangan,
mengguncangkan tujuan.
Lalu apa yang terjadi?
Bagaimana seterusnya?
Apa yang harus dilakukan?
Menunggu.
Menunggu dan diam?
Itu saja?
Ya.
Sampai guntur berbisik kembali.
On The Corner
Dan rasanya seluruh isi hidupku terkocok.
Semuanya berantakan,
seakan2 ada pencuri yang masuk ke dalam hidupku,
membongkar segala sesuatunya,
untuk mengambil sebuah barang berharga yang tidak ternilai.
Bahkan aku tidak tahu apa yang hilang,
tapi aku yakin ada yang menghilang.
Kalau ditanya rasanya?
Kosong.
Jawaban yang paling tepat untuk diungkapkan.
Kenapa?
Bukankah ada dunia maya yang menyatukan?
Iya, dunia maya memang menyatukan.
Tapi tetap saja, berbeda jika dibandingkan dengan dunia nyata.
Jauh.
Biasanya dunia maya mengobati,
kali ini, tidak.
Sungguh, aku kehilangan.
Dunia maya, efeknya seperti antibiotik.
Awalnya memang terobati,
dan aku sembuh.
Tapi, kalau setiap sakit aku minum antibiotik,
lama2 virus yang menyerangku akan kebal terhadap antibiotik yang kuminum.
Hasilnya?
Aku tidak akan sembuh.
Jadi?
Entahlah.
Ah, selalu saja seperti ini.
Mengambang.
Berada di persimpangan jalan sungguh merepotkan.
Terutama jalan baru yang selalu kudapat setiap hari.
Tanpa peta.
Dan aku tak tahu dimana tujuanku berada.
Dan untuk sekian kalinya.
Aku tahu apa tujuanku,
tapi aku belum melihatnya sama sekali.
Bahkan ujung antenanya.
Hidup itu lucu.
Banyak maunya.
Banyak berinya.
Aku tidak punya pilihan.
Tapi sekarang, aku dipersimpangan.
Entah mau ke kiri atau ke kanan.
Sedangkan yang pasti, aku harus memilih dan terus maju.
Tidak mungkin mundur.
Aah, sungguh,
aku meragukan pilihanku.
Segalanya bertolak belakang dengan impianku.
Well, sejak anak kecil pasti punya impian.
Dan mungkin kuakui, aku masih seorang anak kecil.
Yang belum menemukan jati diri.
Kalau ditanya, bagaimana hidupku?
Mengambang, lagi2.
Sungguh, aku benci membaca cerita mengambang.
Gregetan rasanya.
Buat orang penasaran saja.
Tapi aku sangat suka menulis cerita mengambang.
Aneh.
Semuanya berantakan,
seakan2 ada pencuri yang masuk ke dalam hidupku,
membongkar segala sesuatunya,
untuk mengambil sebuah barang berharga yang tidak ternilai.
Bahkan aku tidak tahu apa yang hilang,
tapi aku yakin ada yang menghilang.
Kalau ditanya rasanya?
Kosong.
Jawaban yang paling tepat untuk diungkapkan.
Kenapa?
Bukankah ada dunia maya yang menyatukan?
Iya, dunia maya memang menyatukan.
Tapi tetap saja, berbeda jika dibandingkan dengan dunia nyata.
Jauh.
Biasanya dunia maya mengobati,
kali ini, tidak.
Sungguh, aku kehilangan.
Dunia maya, efeknya seperti antibiotik.
Awalnya memang terobati,
dan aku sembuh.
Tapi, kalau setiap sakit aku minum antibiotik,
lama2 virus yang menyerangku akan kebal terhadap antibiotik yang kuminum.
Hasilnya?
Aku tidak akan sembuh.
Jadi?
Entahlah.
Ah, selalu saja seperti ini.
Mengambang.
Berada di persimpangan jalan sungguh merepotkan.
Terutama jalan baru yang selalu kudapat setiap hari.
Tanpa peta.
Dan aku tak tahu dimana tujuanku berada.
Dan untuk sekian kalinya.
Aku tahu apa tujuanku,
tapi aku belum melihatnya sama sekali.
Bahkan ujung antenanya.
Hidup itu lucu.
Banyak maunya.
Banyak berinya.
Aku tidak punya pilihan.
Tapi sekarang, aku dipersimpangan.
Entah mau ke kiri atau ke kanan.
Sedangkan yang pasti, aku harus memilih dan terus maju.
Tidak mungkin mundur.
Aah, sungguh,
aku meragukan pilihanku.
Segalanya bertolak belakang dengan impianku.
Well, sejak anak kecil pasti punya impian.
Dan mungkin kuakui, aku masih seorang anak kecil.
Yang belum menemukan jati diri.
Kalau ditanya, bagaimana hidupku?
Mengambang, lagi2.
Sungguh, aku benci membaca cerita mengambang.
Gregetan rasanya.
Buat orang penasaran saja.
Tapi aku sangat suka menulis cerita mengambang.
Aneh.
Saturday, November 27, 2010
Crack and Turn into pieces
Ah, begitu banyak yang berseliweran kesana kemari di pikiranku. Semakin kupikir, semakin sakit kepalaku. Kupertanyakan lebih dalam, mencari tahu jawaban, hatiku tercabik, batinku terkikis. Kalau direnungkan, perlukah? Sepertinya tidak akan merubah keinginanku. Aku bertahan, salah. Sangkanya, keras kepala. Aku berubah, juga tidak benar.Tidak berpendirian, kelihatannya.
Jadi? Ntahlah.
Jiwaku tertekan, batinku berteriak. Seluruh pertanyaan berkecamuk. Semua suara yang kukenal bertumpuk, sahut menyahut, menyuruhku untuk ini dan itu, tak ada satupun yang terdengar jelas. Aku terpeleset, jatuh. Seperti terjun bebas dan tampaknya, masih lama lagi aku akan mencapai dasar lubang yang bodoh ini. Melayang tak tentu arah. Gelap? Jelas.
Masih lebih mending jika aku sudah sampai di dasar lubang. Paling tidak, aku dapat mencari jalan keluar untuk pelan-pelan memanjat dari pinggir lubang ini. Tapi sampai sekarang aku belum melihat dasar dari lubang ini. Masih jauhkah?
Kalau terus menerus seperti ini, mungkin aku harus tetap diam dan bertahan. Menikmati kegelapan yang ada selagi aku terus terjun di dalam lubang yang bahkan aku tidak tahu seberapa dalam. Lucu memang, menikmati kegelapan? Bagaimana bisa?
Selain menikmati kegelapan, aku juga harus bersiap-siap menghadapi rasa sakit yang luar biasa saat aku sampai di dasar nanti. Pasti aku akan retak. Mungkin bukan retak lagi. Dengan angin dingin yang terus menerus menerpa dari kegelapan, menusuk setiap inci tulangku. Mungkin tulangku sudah retak saat ini, rapuh. Dan sesampainya aku di dasar, kalau aku tidak hancur berkeping-keping, mungkin aku sudah menjadi abu dan terbang bersama angin.
Jadi? Ntahlah.
Jiwaku tertekan, batinku berteriak. Seluruh pertanyaan berkecamuk. Semua suara yang kukenal bertumpuk, sahut menyahut, menyuruhku untuk ini dan itu, tak ada satupun yang terdengar jelas. Aku terpeleset, jatuh. Seperti terjun bebas dan tampaknya, masih lama lagi aku akan mencapai dasar lubang yang bodoh ini. Melayang tak tentu arah. Gelap? Jelas.
Masih lebih mending jika aku sudah sampai di dasar lubang. Paling tidak, aku dapat mencari jalan keluar untuk pelan-pelan memanjat dari pinggir lubang ini. Tapi sampai sekarang aku belum melihat dasar dari lubang ini. Masih jauhkah?
Kalau terus menerus seperti ini, mungkin aku harus tetap diam dan bertahan. Menikmati kegelapan yang ada selagi aku terus terjun di dalam lubang yang bahkan aku tidak tahu seberapa dalam. Lucu memang, menikmati kegelapan? Bagaimana bisa?
Selain menikmati kegelapan, aku juga harus bersiap-siap menghadapi rasa sakit yang luar biasa saat aku sampai di dasar nanti. Pasti aku akan retak. Mungkin bukan retak lagi. Dengan angin dingin yang terus menerus menerpa dari kegelapan, menusuk setiap inci tulangku. Mungkin tulangku sudah retak saat ini, rapuh. Dan sesampainya aku di dasar, kalau aku tidak hancur berkeping-keping, mungkin aku sudah menjadi abu dan terbang bersama angin.
Thursday, November 11, 2010
Worthless
Bukan maksudku untuk mencampuri,
tapi aku hanya tak bisa melihatmu seperti ini.
Terombang ambing tanpa tujuan.
Bahkan kamu masih di tengah-tengah samudera.
Tak ada satupun pulau,
bahkan yang terkecil sekalipun.
Mungkin aku belum cukup lama mengenalmu.
Tapi itu sudah cukup.
Aku tidak sanggup melihatmu terus dirajam.
Hatimu terus terkikis,
setiap harinya saat merindukannya.
Pikiranmu tercabik,
saat memikirkan sedang apa dia disana.
Hingga pikiranmu buta akan kata-kata.
Tak ada lagi kata-kata yang biasanya kamu tulis.
Aku rasa cukup.
Sampai sini saja.
Sudahi.
Memang sulit.
Tapi kamu tahu yang terbaik.
Sia-sia menunggu bulan bersinar di siang hari.
Meskipun bulan begitu indah,
tapi tidak akan dapat dicapai.
Bahkan kamu tidak dapat melihat bulan di siang hari.
Maka, lepaskanlah.
Bukan hanya cinta yang perlu diraih.
Saat cinta membutakan pikiranmu,
saat itulah kamu harus berhenti.
Paling tidak kamu masih dapat melihat matahari di siang hari.
Bukan bulan.
Meski kamu mengorbankan seluruh waktumu,
pikiranmu, batinmu, dan jiwamu,
sia-sia.
Meski kamu menunggu hingga akhir hidupmu,
sia-sia dengan cara seperti ini.
Kamu hanya membunuh dirimu,
menghancurkan fisikmu,
membutakan batinmu.
Berpikirlah sekali lagi.
Lepaskan untuk saat ini.
Jika semua milikmu,
suatu saat akan kembali,
dan semuanya akan baik-baik saja.
Hanya, percayakan dirimu,
bahwa kamu kuat dan tegar
untuk berdiri sendiri,
tanpa penopang.
tapi aku hanya tak bisa melihatmu seperti ini.
Terombang ambing tanpa tujuan.
Bahkan kamu masih di tengah-tengah samudera.
Tak ada satupun pulau,
bahkan yang terkecil sekalipun.
Mungkin aku belum cukup lama mengenalmu.
Tapi itu sudah cukup.
Aku tidak sanggup melihatmu terus dirajam.
Hatimu terus terkikis,
setiap harinya saat merindukannya.
Pikiranmu tercabik,
saat memikirkan sedang apa dia disana.
Hingga pikiranmu buta akan kata-kata.
Tak ada lagi kata-kata yang biasanya kamu tulis.
Aku rasa cukup.
Sampai sini saja.
Sudahi.
Memang sulit.
Tapi kamu tahu yang terbaik.
Sia-sia menunggu bulan bersinar di siang hari.
Meskipun bulan begitu indah,
tapi tidak akan dapat dicapai.
Bahkan kamu tidak dapat melihat bulan di siang hari.
Maka, lepaskanlah.
Bukan hanya cinta yang perlu diraih.
Saat cinta membutakan pikiranmu,
saat itulah kamu harus berhenti.
Paling tidak kamu masih dapat melihat matahari di siang hari.
Bukan bulan.
Meski kamu mengorbankan seluruh waktumu,
pikiranmu, batinmu, dan jiwamu,
sia-sia.
Meski kamu menunggu hingga akhir hidupmu,
sia-sia dengan cara seperti ini.
Kamu hanya membunuh dirimu,
menghancurkan fisikmu,
membutakan batinmu.
Berpikirlah sekali lagi.
Lepaskan untuk saat ini.
Jika semua milikmu,
suatu saat akan kembali,
dan semuanya akan baik-baik saja.
Hanya, percayakan dirimu,
bahwa kamu kuat dan tegar
untuk berdiri sendiri,
tanpa penopang.
Wednesday, November 10, 2010
Rain's Cuddle
Pernah berdiam diri di tengah hujan?
Membiarkan rintik hujan membasahi diri.
Memandang setiap titik hujan yang membasahi tanah.
Titik hujan yang jatuh di genangan air,
menimbulkan percikan air kecil.
Guntur meraung,
ketakutan merajam.
Tapi melodi hujan bernyanyi,
melenyapkan ketakutan menjadi kenyamanan.
Udara dingin menusuk.
namun pelukan hujan menentramkan.
Menghangatkan sekujur tubuh.
Pelukan hangat yang meluluhkan kegelisahan.
Memang aneh cara hujan memeluk,
hingga meluluhkan kegelisahan.
Seakan-akan,
hujan membersihkan seluruh rasa gelisahmu.
Seakan-akan,
hujan melenyapkan segala bimbang.
Berdiamlah,
rasakan melodi hujan yang begitu halus,
lembut dan tentram.
Berdiamlah,
rasakan saat udara dingin menusuk,
namun rintik hujan menghangatkan.
Berdiamlah,
rasakan saat hujan memelukmu,
dan melenyapkan segala gelisah.
Membiarkan rintik hujan membasahi diri.
Memandang setiap titik hujan yang membasahi tanah.
Titik hujan yang jatuh di genangan air,
menimbulkan percikan air kecil.
Guntur meraung,
ketakutan merajam.
Tapi melodi hujan bernyanyi,
melenyapkan ketakutan menjadi kenyamanan.
Udara dingin menusuk.
namun pelukan hujan menentramkan.
Menghangatkan sekujur tubuh.
Pelukan hangat yang meluluhkan kegelisahan.
Memang aneh cara hujan memeluk,
hingga meluluhkan kegelisahan.
Seakan-akan,
hujan membersihkan seluruh rasa gelisahmu.
Seakan-akan,
hujan melenyapkan segala bimbang.
Berdiamlah,
rasakan melodi hujan yang begitu halus,
lembut dan tentram.
Berdiamlah,
rasakan saat udara dingin menusuk,
namun rintik hujan menghangatkan.
Berdiamlah,
rasakan saat hujan memelukmu,
dan melenyapkan segala gelisah.
Misty Hearings
Aku terbaring di tengah kamarku.
Berdiam diri, merasakan kesendirian.
Mencoba mendengar alam.
Jam dinding berdetak.
Gerakan jarum yang berjalan dan berhenti tiba-tiba,
menimbulkan suara setiap hitungan detik.
Setiap 60 kali berjalan dan berhenti,
terdengar dua suara jarum bersamaan,
itu jarum menit.
Burung berkicau di luar jendela kamarku,
bertengger di atas ranting pohon yang hampir botak,
dengan beberapa kuntum bunga berwana merah.
Mencoba merasuki lebih dalam,
kepakan sayap sang burung terdengar.
Gerakan sayapnya cepat,
seperti terjadi dentuman antara sayap dan tubuh mungilnya.
Telingaku mencoba mencari suara lain yang tersembunyi.
Air mengalir.
Bukan mengalir seperti sungai.
Tapi, suara percikan air.
Yang jatuh dari permukaan jalan,
ke dalam saluran air.
Aku kembali terpaku pada nikmatnya alam.
Dan aku mulai berpikir,
andai saja aku dapat melebur dengan angin,
mengitari ruang tak terbatas ini,
dunia yang begitu agung tercipta.
Andai saja aku dapat mengalir bersama air,
mengitari setiap sela2 permukaan tanah
yang menjadi pijakan manusia setiap harinya.
Tanah yang sangat kuat
dan mampu menopang segala sesuatu di atas bumi.
Andai saja aku dapat menjadi tanah.
Dipercayai setiap manusia untuk menjadi pijakannya.
Dan tetap tegar walau dilanda badai sekalipun.
Andai saja,,,
tapi tidak mungkin.
Yang kuhadapi sekarang memang badai,
tetapi aku hanya seorang manusia.
Yang mungkin tidak tegar saat dilanda badai,
tetapi aku tetap melakukan yang terbaik,
bertahan dalam badai,
bahkan aku masih mungkin menari dalam badai.
Berdiam diri, merasakan kesendirian.
Mencoba mendengar alam.
Jam dinding berdetak.
Gerakan jarum yang berjalan dan berhenti tiba-tiba,
menimbulkan suara setiap hitungan detik.
Setiap 60 kali berjalan dan berhenti,
terdengar dua suara jarum bersamaan,
itu jarum menit.
Burung berkicau di luar jendela kamarku,
bertengger di atas ranting pohon yang hampir botak,
dengan beberapa kuntum bunga berwana merah.
Mencoba merasuki lebih dalam,
kepakan sayap sang burung terdengar.
Gerakan sayapnya cepat,
seperti terjadi dentuman antara sayap dan tubuh mungilnya.
Telingaku mencoba mencari suara lain yang tersembunyi.
Air mengalir.
Bukan mengalir seperti sungai.
Tapi, suara percikan air.
Yang jatuh dari permukaan jalan,
ke dalam saluran air.
Aku kembali terpaku pada nikmatnya alam.
Dan aku mulai berpikir,
andai saja aku dapat melebur dengan angin,
mengitari ruang tak terbatas ini,
dunia yang begitu agung tercipta.
Andai saja aku dapat mengalir bersama air,
mengitari setiap sela2 permukaan tanah
yang menjadi pijakan manusia setiap harinya.
Tanah yang sangat kuat
dan mampu menopang segala sesuatu di atas bumi.
Andai saja aku dapat menjadi tanah.
Dipercayai setiap manusia untuk menjadi pijakannya.
Dan tetap tegar walau dilanda badai sekalipun.
Andai saja,,,
tapi tidak mungkin.
Yang kuhadapi sekarang memang badai,
tetapi aku hanya seorang manusia.
Yang mungkin tidak tegar saat dilanda badai,
tetapi aku tetap melakukan yang terbaik,
bertahan dalam badai,
bahkan aku masih mungkin menari dalam badai.
The Haze
Hari ini, kejadian2 membuatku berpikir.
Sebuah pesan yang tertulis dalam handphone membawaku kembali ke masa lalu.
Aku dan temanku yang sedang merasakan cinta dan hubungan, saling mengirim pesan.
Dan, tiba2,
"Pernah merasakan cinta? Menurutmu, cinta apa yang paling aneh?"
Begitu pertanyaan ini dilontarkan,
aku terdiam sejenak,
mencoba mengertii kata per kata yang tertera pada layar kecil handphoneku.
Cinta.
Kemudian aku berpikir,
menelusuri ruang waktu,
mengulas kembali kenangan.
Mencoba mengingat apa yang kurasakan saat itu.
Apakah itu cinta? Atau...
Sudah cukup lama aku tidak berkutik dengan cinta,
tapi aku mencoba sebisaku untuk menjawab.
Aku menekan tombol option-reply.
Lalu aku menekan keypad,
dan kata "pernah" tertera pada layar.
Aku berhenti mengetik.
Pernahkah?
Aku tidak yakin.
Maka aku menekan tombol 'c pada keypadku.
Dan kata "pernah" itu terhapus.
Kuganti dengan "Mungkin, pernah."
Menjawab satu pertanyaan saja sudah cukup sulit.
Kini, pertanyaan kedua.
Cinta paling aneh..
Hmm,, saat mencintai seseorang,
yang tak mungkin menjadi milikmu.
Bukan, bukan itu.
Ada lagi yang lebih aneh.
Aku berusaha menguak kembali seluruh ingatanku mengenai cinta.
Dan akhirnya aku memutuskan,
dan mengetik
"Cinta paling aneh, mm, saat meninggalkan, tapi akhirnya ingin kembali. Menurutmu?"
Lalu aku menekan tombol send dengan cepat.
Menghitung detik, menunggu balasan.
Handphoneku bergetar.
Terburu-buru aku membuka sms.
Dari nomor seseorang yang kusave namanya dengan empat huruf,
nama panggilannya.
"Jenis cinta paling aneh. Saat tau itu gak mungkin, tapi masih dijalani."
Hei, itu pemikiranku tadi.
Tapi, tidak, itu tidak seaneh yang kukatakan
dan kusent tadi.
Kamu hanya belum merasakan yang satu itu, pikirku.
"Yah, memang cinta itu lebih banyak aneh" katanya.
Baru kali ini aku menelusuri kembali kenanganku.
Setelah sekian lama aku mencoba melepaskan,
dan menguburnya.
Kini aku menggali kembali kuburan itu,
dengan pikiranku.
Untuk seseorang yang membuatku menggali kembali kenanganku.
Apakah kamu akan berhenti disini dan melepaskannya,
atau tetap bertahan di sini,
terombang ambing dalam kesakitan dan ketidakpastian?
Mencoba melupakan, dan gagal untuk yang kesekian kalinya.
Membuat seluruh pikiranmu kehabisan kata-kata.
Sebuah pesan yang tertulis dalam handphone membawaku kembali ke masa lalu.
Aku dan temanku yang sedang merasakan cinta dan hubungan, saling mengirim pesan.
Dan, tiba2,
"Pernah merasakan cinta? Menurutmu, cinta apa yang paling aneh?"
Begitu pertanyaan ini dilontarkan,
aku terdiam sejenak,
mencoba mengertii kata per kata yang tertera pada layar kecil handphoneku.
Cinta.
Kemudian aku berpikir,
menelusuri ruang waktu,
mengulas kembali kenangan.
Mencoba mengingat apa yang kurasakan saat itu.
Apakah itu cinta? Atau...
Sudah cukup lama aku tidak berkutik dengan cinta,
tapi aku mencoba sebisaku untuk menjawab.
Aku menekan tombol option-reply.
Lalu aku menekan keypad,
dan kata "pernah" tertera pada layar.
Aku berhenti mengetik.
Pernahkah?
Aku tidak yakin.
Maka aku menekan tombol 'c pada keypadku.
Dan kata "pernah" itu terhapus.
Kuganti dengan "Mungkin, pernah."
Menjawab satu pertanyaan saja sudah cukup sulit.
Kini, pertanyaan kedua.
Cinta paling aneh..
Hmm,, saat mencintai seseorang,
yang tak mungkin menjadi milikmu.
Bukan, bukan itu.
Ada lagi yang lebih aneh.
Aku berusaha menguak kembali seluruh ingatanku mengenai cinta.
Dan akhirnya aku memutuskan,
dan mengetik
"Cinta paling aneh, mm, saat meninggalkan, tapi akhirnya ingin kembali. Menurutmu?"
Lalu aku menekan tombol send dengan cepat.
Menghitung detik, menunggu balasan.
Handphoneku bergetar.
Terburu-buru aku membuka sms.
Dari nomor seseorang yang kusave namanya dengan empat huruf,
nama panggilannya.
"Jenis cinta paling aneh. Saat tau itu gak mungkin, tapi masih dijalani."
Hei, itu pemikiranku tadi.
Tapi, tidak, itu tidak seaneh yang kukatakan
dan kusent tadi.
Kamu hanya belum merasakan yang satu itu, pikirku.
"Yah, memang cinta itu lebih banyak aneh" katanya.
Baru kali ini aku menelusuri kembali kenanganku.
Setelah sekian lama aku mencoba melepaskan,
dan menguburnya.
Kini aku menggali kembali kuburan itu,
dengan pikiranku.
Untuk seseorang yang membuatku menggali kembali kenanganku.
Apakah kamu akan berhenti disini dan melepaskannya,
atau tetap bertahan di sini,
terombang ambing dalam kesakitan dan ketidakpastian?
Mencoba melupakan, dan gagal untuk yang kesekian kalinya.
Membuat seluruh pikiranmu kehabisan kata-kata.
Subscribe to:
Comments (Atom)