Hidup ini memang milikku, tapi sebagian besar waktunya bukan milikku. Entah ini pilihan hidup atau apa. Seolah-olah hidup yang memaksaku berada di lingkaran ini. Lalu kutelusuri masa lalu, saat segalanya milikku, sepenuhnya. Keinginanku, niatku, mimpi-mimpiku. Sekarang yang mana lagi yang benar-benar kuinginkan? Kehidupan ini?
Tertawa sejenak, lalu berpikir lagi. Sampai kapan aku menjalani semua ini dengan perintah-perintah dan aturan-aturan yang bahkan tak memberiku waktu untuk berpikir.
Lalu semakin lama, semuanya semakin membelenggu. Mengikatku dalam ikatan yang takkan lepas. Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul : sampai kapan? Lalu hidup menjawab, sampai segalanya tertata rapi.
Ini hidupku, tetapi mengapa dikontrol setiap orang yang masuk ke dalam hidupku?
Tak pernah mendesah, segala keluh kesah yang ingin kuungkapkan. Segalanya, yang tak pernah menghargai jerih payahku. Menghargai setiap perjuangan yang kupertahankan sepenuh hati.
Bukannya tidak beralasan, tetapi tak pernah ada yang mau mendengar penjelasanku.
'Tidak', selalu kata itu yang kudengar. Pernahkah kau bertanya 'mengapa?' Atau paling tidak, berilah aku waktu. Kesempatan untuk menjelaskan bagaimana aku akan memperjuangkan pilihanku.
Aku ini aku. Hidupku, bukan milikmu. Aku menjalani hidupku, dan aku tahu apa yang terbaik untukku sekarang. Tapi tak ada yang pernah memahami segala sesuatu yang kulakukan.
Kebebasan. Mungkinkah kudapatkan kebebasan yang kuinginkan. Perlukah aku mengorbankan seluruh hidupku demi keegoisanmu? Sudah cukupkah mengendalikan hidupku?
Lalu, pernahkah berpikir untuk menghargai seluruh karyaku? Pernahkah bertanya apa mimpiku untuk masa depanku?
'Jangan terus bermimpi' itu katamu.
Jatuhkan saja semua bintangku. Hancurkan semua mimpiku. Sapu semua khayalanku untuk masa depanku.
Aku tidak menginginkan uang, atau apapun. Aku hanya menginginkan hidupku.
Akankah kudapatkan? Atau aku hanya akan terus terdiam?
Misty Haze
Tuesday, October 25, 2011
Kenapa? Atau Bagaimana?
Setiap kali jariku menari di atas huruf-huruf keyboard, pikiranku bekerja. Apa lagi yang akan kutuangkan, apa yang akan kutulis. Segala sesuatunya terasa datar, normal seperti biasanya. Sempat terpikir, kapan aku akan mempunyai masa-masa bahagia seperti dulu, penuh kejutan yang tak pernah kusangka.
Sahabat-sahabat yang tak pernah pergi.
Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa rasanya masa-masa sekolah dengan sahabat-sahabat seperti itu yang kuinginkan untuk sepanjang hidupku. Tanpa beban, tanpa tanggung jawab seberat ini. Berat rasanya mengetahui hidupmu dikontrol oleh lingkunganmu. Entah kenapa, rasanya aku terjebak lagi. Kata lagi inilah yang membuatku bingung. Entah bagaimana, atau mengapa, kata lagi ini selalu terngiang-ngiang di benakku.
Terjerat, terikat, atau terjebak? Atau diriku sendiri yang menjebak kehidupanku. Lalu teringat pertanyaan salah satu sahabatku "kenapa menjalaninya kalau tidak suka?"
Hei, ini hidup. Siapa tahu apa yang akan terjadi nantinya? Mungkin saja aku terlepas, atau mungkin aku terjerat selamanya. Pilihan hidup. Mungkin benar aku telah memilih untuk menyelam ke dalam hidup yang tidak menyenangkan ini. Tapi, paling tidak aku masih mempunyai tujuan hidup. Well, sederhana saja, tujuan hidupku adalah bahagia.
Aku masih berpikir, bagaimana aku bahagia? Rasanya, segalanya harus kukorbankan. SEGALANYA. Pengorbanan itu memang penting, tapi, bagaimana jika pengorbananku sia-sia? Aku mempercayakan segalanya pada kehidupanku, pilihan hidupku, meskipun bukan keinginanku. Aku meletakkan kepercayaanku di ujung hidupku. Dan sekali kepercayaan itu terjatuh, aku tahu aku akan hancur berkeping-keping.
Lagi-lagi aku mengeluh, mengenai kehidupanku. Mengerti pemikiranku? Tak ada seorang pun yang mengerti. Bahkan orang yang disebut belahan jiwa, juga takkan mengerti. Pengorbanan, keyakinan, kepercayaan, segalanya sudah kulakukan. Dan aku hanya terdiam, menunggu dan tak berdaya. Akankah pengorbanan ini membuahkan hasil? Atau malah mengecewakan?
Hu-ah, rasanya hati ini tercabik-cabik ya? Dirajam beribu belati yang selalu siap untuk menyerangku kapan saja. Segalanya terpendam. Bersuara, tetapi aku bisu. Susah ya? Mendengar tetapi tetap tuli. Melihat dan aku masih saja buta. Mencoba menjelaskan, tapi takkan ada yang peduli, apalagi mencoba mengerti. Aku yang harus mengerti. Lalu, mengapa harus aku? Kenapa bukan dirimu? Kenapa bukan dia saja yang harus mengerti? Kenapa selalu aku yang harus menerima segalanya dan kenapa selalu aku yang dipojokkan? Kenapa selalu aku yang akhirnya tak berdaya dan hanya boleh diam dan menerima?
Pertanyaan "kenapa" ini selalu berujung dengan "bagaimana". Bagaimana agar aku bahagia?
Aku masih berpikir, bagaimana aku bahagia? Rasanya, segalanya harus kukorbankan. SEGALANYA. Pengorbanan itu memang penting, tapi, bagaimana jika pengorbananku sia-sia? Aku mempercayakan segalanya pada kehidupanku, pilihan hidupku, meskipun bukan keinginanku. Aku meletakkan kepercayaanku di ujung hidupku. Dan sekali kepercayaan itu terjatuh, aku tahu aku akan hancur berkeping-keping.
Lagi-lagi aku mengeluh, mengenai kehidupanku. Mengerti pemikiranku? Tak ada seorang pun yang mengerti. Bahkan orang yang disebut belahan jiwa, juga takkan mengerti. Pengorbanan, keyakinan, kepercayaan, segalanya sudah kulakukan. Dan aku hanya terdiam, menunggu dan tak berdaya. Akankah pengorbanan ini membuahkan hasil? Atau malah mengecewakan?
Hu-ah, rasanya hati ini tercabik-cabik ya? Dirajam beribu belati yang selalu siap untuk menyerangku kapan saja. Segalanya terpendam. Bersuara, tetapi aku bisu. Susah ya? Mendengar tetapi tetap tuli. Melihat dan aku masih saja buta. Mencoba menjelaskan, tapi takkan ada yang peduli, apalagi mencoba mengerti. Aku yang harus mengerti. Lalu, mengapa harus aku? Kenapa bukan dirimu? Kenapa bukan dia saja yang harus mengerti? Kenapa selalu aku yang harus menerima segalanya dan kenapa selalu aku yang dipojokkan? Kenapa selalu aku yang akhirnya tak berdaya dan hanya boleh diam dan menerima?
Pertanyaan "kenapa" ini selalu berujung dengan "bagaimana". Bagaimana agar aku bahagia?
Friday, September 9, 2011
Harapan yang nyaring
Langkahku terseret. Entah apalagi yang harus kujalani. Tadinya kupikir ini akan berlangsung begitu saja, lalu terlewat bahkan tanpa kusadari, seharusnya segalanya telah lewat. Namun yang kurasakan sekarang adalah, semuanya telah melampaui kekuatanku. Sampai berapa lama aku harus bertahan dalam belenggu. Tanpa akhir, tanpa sebuah kejelasan. Kepastian? Minus. Segalanya meragukan. Mulai bertanya-tanya, bagaimana kalau aku tak sanggup. Apa yang akan terjadi jika aku tiba-tiba meninggalkan semuanya. Impian, kehidupan. Semuanya. Aku benci saat terangkat ke atas, lalu tiba-tiba terjatuh, hancur berkeping-keping, lalu terseret arus kuat yang bahkan tanpa tujuan.
Aku benci. Aku tak ingin. Aku tak pernah menginginkan segala sesuatu yang telah terjadi saat ini. Lalu, apa yang kulakukan untuk bertahan rasanya sia-sia. Tak ada hasil yang pasti, segala impian yang tadinya kupikir hanya tertunda, nyatanya takkan dapat lagi kuraih. Kosong. Harapan-harapan ini semakin nyaring saja bunyinya. Kemana impianku pergi? Ingin tertawa. Menertawakan impianku yang terlalu tinggi. Mimpi apa yang masuk akal, tapi tak dapat kujangkau? Kalau kupikir lagi, pintu sudah terbuka sangat lebar untukku, menuju masa depan impianku. Tetapi ada saja angin yang membanting pintu impian. Kejam memang. Tapi itulah dunia. Segala kemunafikan yang ada takkan terdeteksi.
Wednesday, August 3, 2011
Grande Roue - Spektoradego (I)

Pagi itu mendung, langit muram dan cuaca dingin, menusuk ke dalam tulang. Hujan rintik-rintik membasahi jaket seorang perempuan yang masih berjalan lunglai. Tak tampak setitik semangat dalam raut mukanya. Jalannya lunglai, seakan-akan akan terbawa angin. Perempuan itu masuk ke dalam Cafe langganannya. Lalu duduk di sofa kesayangannya. Seseorang datang membawakan secangkir Mochaffee yang setiap pagi di minum oleh perempuan itu. Sharon namanya.
"Seperti biasa ya, Sharon. Mochaffee untukmu. Dua sendok gula ditambah susu dan coklat bubuk," kata orang yang menyajikan minuman untuk Sharon setiap hari.
"Yah, cukup untuk menenangkan seluruh pikiranku, Rose," jawabnya kepada Rose, nama orang tersebut, yang tak lain adalah pemilik Cafe tersebut.
"Masih belum berpikir untuk mencari pekerjaan lain?,"
Sharon menggelengkan kepalanya. Lalu mendesah. Rose pun berlalu. Pertanyaan yang sama selalu diajukan kepada Sharon, dan jawaban mengecewakan yang sama selalu ditunjukkan olehnya. Bukannya Rose tak pernah peduli. Sharon yang setiap pagi dan sore selalu datang ke Cafe nya, sudah dianggapnya sebagai sahabat. Bahkan Sharon sering menghabiskan waktunya di Cafe tersebut sampai malam.
Sharon mengeluarkan telepon genggamnya dari kantong jaket birunya yang selalu dipakainya. Yah, itu bukan jaketnya, tetapi jaket kekasihnya yang diberikan oleh kekasihnya tiga tahun yang lalu sebelum kekasihnya merantau ke Negeri lain.
Sharon selalu membaca email yang dikirimkan kekasihnya setiap pagi.
"Selamat pagi, cantik. Aku harap kamu baik-baik saja pagi ini. Hari ini aku ada pertandingan bola antar-kampus, doakan aku menang ya. Aku juga mendoakanmu agar kamu selalu ceria setiap hari seperti kamu yang biasanya. Tetap semangat ya! Kita akan bertemu segera. "
Sharon tersenyum, segera membalas email tersebut. Walaupun email yang tidak terlalu panjang, tetapi Sharon selalu terkesan dengan rangkaian kata Kevin.
Seulas senyum tidak terlalu bertahan lama, saat waktu terus berjalan. Sudah waktunya Sharon untuk kembali bekerja. Sharon menghabiskan Mochaffeenya dan pergi keluar dari Cafe menuju kantornya. Kantornya bukan kantor yang besar, tetapi orang-orang yang bekerja di dalamnya itu 'sok besar' istilahnya.
Sharon terdiam, memandangi sudut meja kerjanya yang selalu penuh dengan kertas. Berserakan kemana-mana, dan tak pernah ada orang yang peduli seberapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan Sharon. Ia menatap tajam tak tentu arah. Pandangannya terkunci pada satu titik, dan pikirannya berputar kesana kemari, tak tentu arah. Segalanya bersarang di dalam pikirannya.
Sebenarnya Sharon tak tahan lagi dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang. Tidak ada yang pernah menghargai perkerjaannya, sekali pun. Pekerjaannya bertumpuk, hampir setiap hari Sharon lembur karena pekerjaannya yang tak kunjung habis, ditambah lagi dengan pekerjaan yang sisa dari orang-orang yang menganggap dirinya hebat. Selama ini Sharon hanya diam. Gajinya tidak seberapa, tetapi Sharon selalu berusaha yang terbaik menyelesaikan pekerjaannya, meskipun pekerjaan yang bukan miliknya. Sharon selalu berpikir bahwa suatu saat seseorang akan menghargai hasil kerjanya. Tetapi tak seorangpun sadar. Setiap pekerjaan yang dikerjakannya di klaim oleh orang lain. Dan selama dua tahun, bukan Sharon yang dihargai, tetapi orang sok hebat itu yang dihargai. Orang itu dipromosikan hingga naik jabatan, gajinya sudah naik empat kali lipat dari dua tahun yang lalu. Padahal selama ini perkerjaannya dikerjakan oleh Sharon.
Ah, sudahlah. Sharon tak pernah sudi membahas tentang orang itu. Yang kini Sharon pikirkan adalah, bagaimana caranya Sharon keluar dari belenggu ini. Bukannya tidak bisa, tetapi orang itu bukan hanya sekedar 'orang'. Orang itu, memberinya memori yang buruk. Pengalaman yang takkan pernah terlupakan. Dan berkat itu, orang itu dengan mudahnya mengacam Sharon. Jack namanya. Laki-laki paling brengsek yang pernah ia temui.
Kali ini Sharon ingin bersikap tegas, tetapi selalu gagal. Sharon tidak memiliki keberanian yang cukup. Satu-satunya yang dapat diharapkan oleh Sharon adalah Kevin. Kevin adalah satu-satunya orang yang dapat dipercayanya. Yang menghargai Sharon layaknya perempuan. Selama 5 tahun menjalin hubungan, tak pernah sekalipun Kevin mencoba untuk menyentuhnya. Kevin mengetahui seluruh masalah Sharon dengan Jack. Dan Kevin berjanji akan melepaskan belenggu Sharon. Dan Sharon tetap menunggu. Tahun depan, Kevin akan pulang kembali ke Indonesia. Sharon percaya akan Kevin.
Thursday, July 14, 2011
Pupus
Dan saat segalanya hampir sempurna, menuai segala mimpi yang tadinya pupus, kekecewaan pun menghampiri seperti biasanya. Tak bisakah membiarkan aku menjalani mimpi dengan cinta dan kasih yang kudambakan?
-------------------------------------------------------------------------------------
“Pernahkah cintamu jatuh pada orang yang tepat?,” tanya Rose kepada Alex.
Alex tertawa, mengukir sedikit senyuman pada bibirnya. Ia membelai rambut Rose dan berkata, “Pada orang yang tepat? Aku rasa aku sudah jatuh cinta pada orang yang tepat.”
Pipi Rose memerah, tersipu akan kata-kata Alex yang begitu manis. Lalu tersenyum memandang Alex, penuh arti.
“Ada apa?,” kini giliran Alex yang bertanya.
Rose tetap tersenyum, mengunci pandangannya pada kekasihnya itu. Aku harap kamu tahu betapa aku mencintaimu dan selalu ingin bersamamu.
“Akankah kita bersama selamanya?,” Rose bertanya ragu.
“Ya, sampai kita mempunyai cucu dan cucu kita mempunyai anak, kita akan bersama selamanya,” jawab Alex yakin.
-------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin kebahagiaan seperti ini yang pernah aku rasakan. Dengan kasih yang rasanya takkan pernah padam, dan cinta yang selalu membuatku berbunga-bunga. Tahukah rasanya? Mungkin Alex bukan laki-laki paling sempurna yang pernah kutemui, yah, tidak ada seorang pun yang sempurna. Dan mungkin ini bukan kisah cinta yang sempurna seperti dalam dongeng klasik. Tidak, itu terlalu naïf. Tetapi Alex yang memberi arti dalam hidupku, meyempurnakan setiap langkahku, melengkapi kekuranganku yang takkan pernah menjadi sempurna. Alex yang memunguti setiap keping hatiku dan membenahnya menjadi utuh. Tanpanya, aku kehilangan. Mungkin ketika ia pergi, separuh jiwaku telah hilang, dan tak pernah kembali. Aku masih tak pernah mengerti, kenapa ia harus pergi? Dan bagaimana aku akan hidup tanpanya.
-------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------
“Pernahkah cintamu jatuh pada orang yang tepat?,” tanya Rose kepada Alex.
Alex tertawa, mengukir sedikit senyuman pada bibirnya. Ia membelai rambut Rose dan berkata, “Pada orang yang tepat? Aku rasa aku sudah jatuh cinta pada orang yang tepat.”
Pipi Rose memerah, tersipu akan kata-kata Alex yang begitu manis. Lalu tersenyum memandang Alex, penuh arti.
“Ada apa?,” kini giliran Alex yang bertanya.
Rose tetap tersenyum, mengunci pandangannya pada kekasihnya itu. Aku harap kamu tahu betapa aku mencintaimu dan selalu ingin bersamamu.
“Akankah kita bersama selamanya?,” Rose bertanya ragu.
“Ya, sampai kita mempunyai cucu dan cucu kita mempunyai anak, kita akan bersama selamanya,” jawab Alex yakin.
-------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin kebahagiaan seperti ini yang pernah aku rasakan. Dengan kasih yang rasanya takkan pernah padam, dan cinta yang selalu membuatku berbunga-bunga. Tahukah rasanya? Mungkin Alex bukan laki-laki paling sempurna yang pernah kutemui, yah, tidak ada seorang pun yang sempurna. Dan mungkin ini bukan kisah cinta yang sempurna seperti dalam dongeng klasik. Tidak, itu terlalu naïf. Tetapi Alex yang memberi arti dalam hidupku, meyempurnakan setiap langkahku, melengkapi kekuranganku yang takkan pernah menjadi sempurna. Alex yang memunguti setiap keping hatiku dan membenahnya menjadi utuh. Tanpanya, aku kehilangan. Mungkin ketika ia pergi, separuh jiwaku telah hilang, dan tak pernah kembali. Aku masih tak pernah mengerti, kenapa ia harus pergi? Dan bagaimana aku akan hidup tanpanya.
-------------------------------------------------------------------------------------
Thursday, June 9, 2011
Perempuan Yang Dicintai Suamiku
Maaf kalo ini repost, tapi ini bagus banget.. :')
Perempuan yang dicintai suamiku
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima”
Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Jakarta, 7 Januari 2009
Perempuan yang dicintai suamiku
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima”
Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Jakarta, 7 Januari 2009
Thursday, May 19, 2011
Antonim
Tahu rasanya tersakiti?
Bagaimana seulas rasa yang tadinya lebih manis dari gula, lalu berubah menjadi pahit, sampai-sampai menghilangkan rasa lainnya.
Saat tersakiti, segala sesuatu yang ada dihadapan memuakan. Apa sih yang sedang terjadi? Atau, apa lagi yan akan terjadi?
Juga, kenapa harus seperti ini? Mengapa ini terjadi padaku?
Pikirkan lagi, bagaimana bertahan dalam serangan badai yang begitu dashyat? Membuat segalanya terombang-ambing, terlempar kesana kemari, tak pernah jelas arah dan tujuannya. Alasannya? Jangan ditanya. Takkan ada yang tahu.
Tanya saja pada Tuhan, Tuhan hanya terdiam mendengarkan.
Di saat seperti ini, yang bisa kita lakukan hanya menyalahkan. Menyalahkan apapun yang bisa disalahkan.
Lalu berpikir lagi, kenapa Tuhan hanya diam? Kenapa Tuhan tidak bertindak dan menunjukkan jalan yang benar?
Lagi-lagi menyalahkan.
Pernahkah terpikir bagaimana Tuhan merencanakan segala sesuatunya dengan baik.
Setelah tersakiti, kebahagiaan datang menjemput.
Apa yang kita lakukan? Menenggelamkan diri dalam kebahagian. Tak pernah tahu bahwa kita masih perlu mencari jalan. Jalan menuju kebahagiaan abadi.
Ingat saat kita dicintai? Juga mencintai?
Segala sesuatunya sempurna. Perasaanmu. Kebahagiaanmu. Segalanya.
Seakan-akan dialah orang terpenting dalam hidupmu.
Bagaimana keadaannya? Apa yang sedang ia lakukan?
Apakah ia juga memikirkanku? Apakah ia juga merindukanku seperti aku merindukannya?
Ingat bagaimana harum tubuhnya yang membuatku begitu nyaman saat bersamanya.
Ingat bagaimana genggaman tangannya yang hangat, dan erat seakan-akan ia takkan melepaskanku.
Teringat suaranya yang akan terngiang sepanjang saat, hingga aku terlelap.
Teringat bagaimana perhatian dan pengertian yang ia tunjukkan kepadaku.
Segalanya. Dan ia menjadi bagian terpenting dalam hidupku yang enggan kulepas.
Bagaimana seulas rasa yang tadinya lebih manis dari gula, lalu berubah menjadi pahit, sampai-sampai menghilangkan rasa lainnya.
Saat tersakiti, segala sesuatu yang ada dihadapan memuakan. Apa sih yang sedang terjadi? Atau, apa lagi yan akan terjadi?
Juga, kenapa harus seperti ini? Mengapa ini terjadi padaku?
Pikirkan lagi, bagaimana bertahan dalam serangan badai yang begitu dashyat? Membuat segalanya terombang-ambing, terlempar kesana kemari, tak pernah jelas arah dan tujuannya. Alasannya? Jangan ditanya. Takkan ada yang tahu.
Tanya saja pada Tuhan, Tuhan hanya terdiam mendengarkan.
Di saat seperti ini, yang bisa kita lakukan hanya menyalahkan. Menyalahkan apapun yang bisa disalahkan.
Lalu berpikir lagi, kenapa Tuhan hanya diam? Kenapa Tuhan tidak bertindak dan menunjukkan jalan yang benar?
Lagi-lagi menyalahkan.
Pernahkah terpikir bagaimana Tuhan merencanakan segala sesuatunya dengan baik.
Setelah tersakiti, kebahagiaan datang menjemput.
Apa yang kita lakukan? Menenggelamkan diri dalam kebahagian. Tak pernah tahu bahwa kita masih perlu mencari jalan. Jalan menuju kebahagiaan abadi.
Ingat saat kita dicintai? Juga mencintai?
Segala sesuatunya sempurna. Perasaanmu. Kebahagiaanmu. Segalanya.
Seakan-akan dialah orang terpenting dalam hidupmu.
Bagaimana keadaannya? Apa yang sedang ia lakukan?
Apakah ia juga memikirkanku? Apakah ia juga merindukanku seperti aku merindukannya?
Ingat bagaimana harum tubuhnya yang membuatku begitu nyaman saat bersamanya.
Ingat bagaimana genggaman tangannya yang hangat, dan erat seakan-akan ia takkan melepaskanku.
Teringat suaranya yang akan terngiang sepanjang saat, hingga aku terlelap.
Teringat bagaimana perhatian dan pengertian yang ia tunjukkan kepadaku.
Segalanya. Dan ia menjadi bagian terpenting dalam hidupku yang enggan kulepas.
Subscribe to:
Comments (Atom)