Ah, begitu banyak yang berseliweran kesana kemari di pikiranku. Semakin kupikir, semakin sakit kepalaku. Kupertanyakan lebih dalam, mencari tahu jawaban, hatiku tercabik, batinku terkikis. Kalau direnungkan, perlukah? Sepertinya tidak akan merubah keinginanku. Aku bertahan, salah. Sangkanya, keras kepala. Aku berubah, juga tidak benar.Tidak berpendirian, kelihatannya.
Jadi? Ntahlah.
Jiwaku tertekan, batinku berteriak. Seluruh pertanyaan berkecamuk. Semua suara yang kukenal bertumpuk, sahut menyahut, menyuruhku untuk ini dan itu, tak ada satupun yang terdengar jelas. Aku terpeleset, jatuh. Seperti terjun bebas dan tampaknya, masih lama lagi aku akan mencapai dasar lubang yang bodoh ini. Melayang tak tentu arah. Gelap? Jelas.
Masih lebih mending jika aku sudah sampai di dasar lubang. Paling tidak, aku dapat mencari jalan keluar untuk pelan-pelan memanjat dari pinggir lubang ini. Tapi sampai sekarang aku belum melihat dasar dari lubang ini. Masih jauhkah?
Kalau terus menerus seperti ini, mungkin aku harus tetap diam dan bertahan. Menikmati kegelapan yang ada selagi aku terus terjun di dalam lubang yang bahkan aku tidak tahu seberapa dalam. Lucu memang, menikmati kegelapan? Bagaimana bisa?
Selain menikmati kegelapan, aku juga harus bersiap-siap menghadapi rasa sakit yang luar biasa saat aku sampai di dasar nanti. Pasti aku akan retak. Mungkin bukan retak lagi. Dengan angin dingin yang terus menerus menerpa dari kegelapan, menusuk setiap inci tulangku. Mungkin tulangku sudah retak saat ini, rapuh. Dan sesampainya aku di dasar, kalau aku tidak hancur berkeping-keping, mungkin aku sudah menjadi abu dan terbang bersama angin.
Saturday, November 27, 2010
Thursday, November 11, 2010
Worthless
Bukan maksudku untuk mencampuri,
tapi aku hanya tak bisa melihatmu seperti ini.
Terombang ambing tanpa tujuan.
Bahkan kamu masih di tengah-tengah samudera.
Tak ada satupun pulau,
bahkan yang terkecil sekalipun.
Mungkin aku belum cukup lama mengenalmu.
Tapi itu sudah cukup.
Aku tidak sanggup melihatmu terus dirajam.
Hatimu terus terkikis,
setiap harinya saat merindukannya.
Pikiranmu tercabik,
saat memikirkan sedang apa dia disana.
Hingga pikiranmu buta akan kata-kata.
Tak ada lagi kata-kata yang biasanya kamu tulis.
Aku rasa cukup.
Sampai sini saja.
Sudahi.
Memang sulit.
Tapi kamu tahu yang terbaik.
Sia-sia menunggu bulan bersinar di siang hari.
Meskipun bulan begitu indah,
tapi tidak akan dapat dicapai.
Bahkan kamu tidak dapat melihat bulan di siang hari.
Maka, lepaskanlah.
Bukan hanya cinta yang perlu diraih.
Saat cinta membutakan pikiranmu,
saat itulah kamu harus berhenti.
Paling tidak kamu masih dapat melihat matahari di siang hari.
Bukan bulan.
Meski kamu mengorbankan seluruh waktumu,
pikiranmu, batinmu, dan jiwamu,
sia-sia.
Meski kamu menunggu hingga akhir hidupmu,
sia-sia dengan cara seperti ini.
Kamu hanya membunuh dirimu,
menghancurkan fisikmu,
membutakan batinmu.
Berpikirlah sekali lagi.
Lepaskan untuk saat ini.
Jika semua milikmu,
suatu saat akan kembali,
dan semuanya akan baik-baik saja.
Hanya, percayakan dirimu,
bahwa kamu kuat dan tegar
untuk berdiri sendiri,
tanpa penopang.
tapi aku hanya tak bisa melihatmu seperti ini.
Terombang ambing tanpa tujuan.
Bahkan kamu masih di tengah-tengah samudera.
Tak ada satupun pulau,
bahkan yang terkecil sekalipun.
Mungkin aku belum cukup lama mengenalmu.
Tapi itu sudah cukup.
Aku tidak sanggup melihatmu terus dirajam.
Hatimu terus terkikis,
setiap harinya saat merindukannya.
Pikiranmu tercabik,
saat memikirkan sedang apa dia disana.
Hingga pikiranmu buta akan kata-kata.
Tak ada lagi kata-kata yang biasanya kamu tulis.
Aku rasa cukup.
Sampai sini saja.
Sudahi.
Memang sulit.
Tapi kamu tahu yang terbaik.
Sia-sia menunggu bulan bersinar di siang hari.
Meskipun bulan begitu indah,
tapi tidak akan dapat dicapai.
Bahkan kamu tidak dapat melihat bulan di siang hari.
Maka, lepaskanlah.
Bukan hanya cinta yang perlu diraih.
Saat cinta membutakan pikiranmu,
saat itulah kamu harus berhenti.
Paling tidak kamu masih dapat melihat matahari di siang hari.
Bukan bulan.
Meski kamu mengorbankan seluruh waktumu,
pikiranmu, batinmu, dan jiwamu,
sia-sia.
Meski kamu menunggu hingga akhir hidupmu,
sia-sia dengan cara seperti ini.
Kamu hanya membunuh dirimu,
menghancurkan fisikmu,
membutakan batinmu.
Berpikirlah sekali lagi.
Lepaskan untuk saat ini.
Jika semua milikmu,
suatu saat akan kembali,
dan semuanya akan baik-baik saja.
Hanya, percayakan dirimu,
bahwa kamu kuat dan tegar
untuk berdiri sendiri,
tanpa penopang.
Wednesday, November 10, 2010
Rain's Cuddle
Pernah berdiam diri di tengah hujan?
Membiarkan rintik hujan membasahi diri.
Memandang setiap titik hujan yang membasahi tanah.
Titik hujan yang jatuh di genangan air,
menimbulkan percikan air kecil.
Guntur meraung,
ketakutan merajam.
Tapi melodi hujan bernyanyi,
melenyapkan ketakutan menjadi kenyamanan.
Udara dingin menusuk.
namun pelukan hujan menentramkan.
Menghangatkan sekujur tubuh.
Pelukan hangat yang meluluhkan kegelisahan.
Memang aneh cara hujan memeluk,
hingga meluluhkan kegelisahan.
Seakan-akan,
hujan membersihkan seluruh rasa gelisahmu.
Seakan-akan,
hujan melenyapkan segala bimbang.
Berdiamlah,
rasakan melodi hujan yang begitu halus,
lembut dan tentram.
Berdiamlah,
rasakan saat udara dingin menusuk,
namun rintik hujan menghangatkan.
Berdiamlah,
rasakan saat hujan memelukmu,
dan melenyapkan segala gelisah.
Membiarkan rintik hujan membasahi diri.
Memandang setiap titik hujan yang membasahi tanah.
Titik hujan yang jatuh di genangan air,
menimbulkan percikan air kecil.
Guntur meraung,
ketakutan merajam.
Tapi melodi hujan bernyanyi,
melenyapkan ketakutan menjadi kenyamanan.
Udara dingin menusuk.
namun pelukan hujan menentramkan.
Menghangatkan sekujur tubuh.
Pelukan hangat yang meluluhkan kegelisahan.
Memang aneh cara hujan memeluk,
hingga meluluhkan kegelisahan.
Seakan-akan,
hujan membersihkan seluruh rasa gelisahmu.
Seakan-akan,
hujan melenyapkan segala bimbang.
Berdiamlah,
rasakan melodi hujan yang begitu halus,
lembut dan tentram.
Berdiamlah,
rasakan saat udara dingin menusuk,
namun rintik hujan menghangatkan.
Berdiamlah,
rasakan saat hujan memelukmu,
dan melenyapkan segala gelisah.
Misty Hearings
Aku terbaring di tengah kamarku.
Berdiam diri, merasakan kesendirian.
Mencoba mendengar alam.
Jam dinding berdetak.
Gerakan jarum yang berjalan dan berhenti tiba-tiba,
menimbulkan suara setiap hitungan detik.
Setiap 60 kali berjalan dan berhenti,
terdengar dua suara jarum bersamaan,
itu jarum menit.
Burung berkicau di luar jendela kamarku,
bertengger di atas ranting pohon yang hampir botak,
dengan beberapa kuntum bunga berwana merah.
Mencoba merasuki lebih dalam,
kepakan sayap sang burung terdengar.
Gerakan sayapnya cepat,
seperti terjadi dentuman antara sayap dan tubuh mungilnya.
Telingaku mencoba mencari suara lain yang tersembunyi.
Air mengalir.
Bukan mengalir seperti sungai.
Tapi, suara percikan air.
Yang jatuh dari permukaan jalan,
ke dalam saluran air.
Aku kembali terpaku pada nikmatnya alam.
Dan aku mulai berpikir,
andai saja aku dapat melebur dengan angin,
mengitari ruang tak terbatas ini,
dunia yang begitu agung tercipta.
Andai saja aku dapat mengalir bersama air,
mengitari setiap sela2 permukaan tanah
yang menjadi pijakan manusia setiap harinya.
Tanah yang sangat kuat
dan mampu menopang segala sesuatu di atas bumi.
Andai saja aku dapat menjadi tanah.
Dipercayai setiap manusia untuk menjadi pijakannya.
Dan tetap tegar walau dilanda badai sekalipun.
Andai saja,,,
tapi tidak mungkin.
Yang kuhadapi sekarang memang badai,
tetapi aku hanya seorang manusia.
Yang mungkin tidak tegar saat dilanda badai,
tetapi aku tetap melakukan yang terbaik,
bertahan dalam badai,
bahkan aku masih mungkin menari dalam badai.
Berdiam diri, merasakan kesendirian.
Mencoba mendengar alam.
Jam dinding berdetak.
Gerakan jarum yang berjalan dan berhenti tiba-tiba,
menimbulkan suara setiap hitungan detik.
Setiap 60 kali berjalan dan berhenti,
terdengar dua suara jarum bersamaan,
itu jarum menit.
Burung berkicau di luar jendela kamarku,
bertengger di atas ranting pohon yang hampir botak,
dengan beberapa kuntum bunga berwana merah.
Mencoba merasuki lebih dalam,
kepakan sayap sang burung terdengar.
Gerakan sayapnya cepat,
seperti terjadi dentuman antara sayap dan tubuh mungilnya.
Telingaku mencoba mencari suara lain yang tersembunyi.
Air mengalir.
Bukan mengalir seperti sungai.
Tapi, suara percikan air.
Yang jatuh dari permukaan jalan,
ke dalam saluran air.
Aku kembali terpaku pada nikmatnya alam.
Dan aku mulai berpikir,
andai saja aku dapat melebur dengan angin,
mengitari ruang tak terbatas ini,
dunia yang begitu agung tercipta.
Andai saja aku dapat mengalir bersama air,
mengitari setiap sela2 permukaan tanah
yang menjadi pijakan manusia setiap harinya.
Tanah yang sangat kuat
dan mampu menopang segala sesuatu di atas bumi.
Andai saja aku dapat menjadi tanah.
Dipercayai setiap manusia untuk menjadi pijakannya.
Dan tetap tegar walau dilanda badai sekalipun.
Andai saja,,,
tapi tidak mungkin.
Yang kuhadapi sekarang memang badai,
tetapi aku hanya seorang manusia.
Yang mungkin tidak tegar saat dilanda badai,
tetapi aku tetap melakukan yang terbaik,
bertahan dalam badai,
bahkan aku masih mungkin menari dalam badai.
The Haze
Hari ini, kejadian2 membuatku berpikir.
Sebuah pesan yang tertulis dalam handphone membawaku kembali ke masa lalu.
Aku dan temanku yang sedang merasakan cinta dan hubungan, saling mengirim pesan.
Dan, tiba2,
"Pernah merasakan cinta? Menurutmu, cinta apa yang paling aneh?"
Begitu pertanyaan ini dilontarkan,
aku terdiam sejenak,
mencoba mengertii kata per kata yang tertera pada layar kecil handphoneku.
Cinta.
Kemudian aku berpikir,
menelusuri ruang waktu,
mengulas kembali kenangan.
Mencoba mengingat apa yang kurasakan saat itu.
Apakah itu cinta? Atau...
Sudah cukup lama aku tidak berkutik dengan cinta,
tapi aku mencoba sebisaku untuk menjawab.
Aku menekan tombol option-reply.
Lalu aku menekan keypad,
dan kata "pernah" tertera pada layar.
Aku berhenti mengetik.
Pernahkah?
Aku tidak yakin.
Maka aku menekan tombol 'c pada keypadku.
Dan kata "pernah" itu terhapus.
Kuganti dengan "Mungkin, pernah."
Menjawab satu pertanyaan saja sudah cukup sulit.
Kini, pertanyaan kedua.
Cinta paling aneh..
Hmm,, saat mencintai seseorang,
yang tak mungkin menjadi milikmu.
Bukan, bukan itu.
Ada lagi yang lebih aneh.
Aku berusaha menguak kembali seluruh ingatanku mengenai cinta.
Dan akhirnya aku memutuskan,
dan mengetik
"Cinta paling aneh, mm, saat meninggalkan, tapi akhirnya ingin kembali. Menurutmu?"
Lalu aku menekan tombol send dengan cepat.
Menghitung detik, menunggu balasan.
Handphoneku bergetar.
Terburu-buru aku membuka sms.
Dari nomor seseorang yang kusave namanya dengan empat huruf,
nama panggilannya.
"Jenis cinta paling aneh. Saat tau itu gak mungkin, tapi masih dijalani."
Hei, itu pemikiranku tadi.
Tapi, tidak, itu tidak seaneh yang kukatakan
dan kusent tadi.
Kamu hanya belum merasakan yang satu itu, pikirku.
"Yah, memang cinta itu lebih banyak aneh" katanya.
Baru kali ini aku menelusuri kembali kenanganku.
Setelah sekian lama aku mencoba melepaskan,
dan menguburnya.
Kini aku menggali kembali kuburan itu,
dengan pikiranku.
Untuk seseorang yang membuatku menggali kembali kenanganku.
Apakah kamu akan berhenti disini dan melepaskannya,
atau tetap bertahan di sini,
terombang ambing dalam kesakitan dan ketidakpastian?
Mencoba melupakan, dan gagal untuk yang kesekian kalinya.
Membuat seluruh pikiranmu kehabisan kata-kata.
Sebuah pesan yang tertulis dalam handphone membawaku kembali ke masa lalu.
Aku dan temanku yang sedang merasakan cinta dan hubungan, saling mengirim pesan.
Dan, tiba2,
"Pernah merasakan cinta? Menurutmu, cinta apa yang paling aneh?"
Begitu pertanyaan ini dilontarkan,
aku terdiam sejenak,
mencoba mengertii kata per kata yang tertera pada layar kecil handphoneku.
Cinta.
Kemudian aku berpikir,
menelusuri ruang waktu,
mengulas kembali kenangan.
Mencoba mengingat apa yang kurasakan saat itu.
Apakah itu cinta? Atau...
Sudah cukup lama aku tidak berkutik dengan cinta,
tapi aku mencoba sebisaku untuk menjawab.
Aku menekan tombol option-reply.
Lalu aku menekan keypad,
dan kata "pernah" tertera pada layar.
Aku berhenti mengetik.
Pernahkah?
Aku tidak yakin.
Maka aku menekan tombol 'c pada keypadku.
Dan kata "pernah" itu terhapus.
Kuganti dengan "Mungkin, pernah."
Menjawab satu pertanyaan saja sudah cukup sulit.
Kini, pertanyaan kedua.
Cinta paling aneh..
Hmm,, saat mencintai seseorang,
yang tak mungkin menjadi milikmu.
Bukan, bukan itu.
Ada lagi yang lebih aneh.
Aku berusaha menguak kembali seluruh ingatanku mengenai cinta.
Dan akhirnya aku memutuskan,
dan mengetik
"Cinta paling aneh, mm, saat meninggalkan, tapi akhirnya ingin kembali. Menurutmu?"
Lalu aku menekan tombol send dengan cepat.
Menghitung detik, menunggu balasan.
Handphoneku bergetar.
Terburu-buru aku membuka sms.
Dari nomor seseorang yang kusave namanya dengan empat huruf,
nama panggilannya.
"Jenis cinta paling aneh. Saat tau itu gak mungkin, tapi masih dijalani."
Hei, itu pemikiranku tadi.
Tapi, tidak, itu tidak seaneh yang kukatakan
dan kusent tadi.
Kamu hanya belum merasakan yang satu itu, pikirku.
"Yah, memang cinta itu lebih banyak aneh" katanya.
Baru kali ini aku menelusuri kembali kenanganku.
Setelah sekian lama aku mencoba melepaskan,
dan menguburnya.
Kini aku menggali kembali kuburan itu,
dengan pikiranku.
Untuk seseorang yang membuatku menggali kembali kenanganku.
Apakah kamu akan berhenti disini dan melepaskannya,
atau tetap bertahan di sini,
terombang ambing dalam kesakitan dan ketidakpastian?
Mencoba melupakan, dan gagal untuk yang kesekian kalinya.
Membuat seluruh pikiranmu kehabisan kata-kata.
Subscribe to:
Comments (Atom)