Bukan maksudku untuk mencampuri,
tapi aku hanya tak bisa melihatmu seperti ini.
Terombang ambing tanpa tujuan.
Bahkan kamu masih di tengah-tengah samudera.
Tak ada satupun pulau,
bahkan yang terkecil sekalipun.
Mungkin aku belum cukup lama mengenalmu.
Tapi itu sudah cukup.
Aku tidak sanggup melihatmu terus dirajam.
Hatimu terus terkikis,
setiap harinya saat merindukannya.
Pikiranmu tercabik,
saat memikirkan sedang apa dia disana.
Hingga pikiranmu buta akan kata-kata.
Tak ada lagi kata-kata yang biasanya kamu tulis.
Aku rasa cukup.
Sampai sini saja.
Sudahi.
Memang sulit.
Tapi kamu tahu yang terbaik.
Sia-sia menunggu bulan bersinar di siang hari.
Meskipun bulan begitu indah,
tapi tidak akan dapat dicapai.
Bahkan kamu tidak dapat melihat bulan di siang hari.
Maka, lepaskanlah.
Bukan hanya cinta yang perlu diraih.
Saat cinta membutakan pikiranmu,
saat itulah kamu harus berhenti.
Paling tidak kamu masih dapat melihat matahari di siang hari.
Bukan bulan.
Meski kamu mengorbankan seluruh waktumu,
pikiranmu, batinmu, dan jiwamu,
sia-sia.
Meski kamu menunggu hingga akhir hidupmu,
sia-sia dengan cara seperti ini.
Kamu hanya membunuh dirimu,
menghancurkan fisikmu,
membutakan batinmu.
Berpikirlah sekali lagi.
Lepaskan untuk saat ini.
Jika semua milikmu,
suatu saat akan kembali,
dan semuanya akan baik-baik saja.
Hanya, percayakan dirimu,
bahwa kamu kuat dan tegar
untuk berdiri sendiri,
tanpa penopang.
No comments:
Post a Comment