Hidup ini memang milikku, tapi sebagian besar waktunya bukan milikku. Entah ini pilihan hidup atau apa. Seolah-olah hidup yang memaksaku berada di lingkaran ini. Lalu kutelusuri masa lalu, saat segalanya milikku, sepenuhnya. Keinginanku, niatku, mimpi-mimpiku. Sekarang yang mana lagi yang benar-benar kuinginkan? Kehidupan ini?
Tertawa sejenak, lalu berpikir lagi. Sampai kapan aku menjalani semua ini dengan perintah-perintah dan aturan-aturan yang bahkan tak memberiku waktu untuk berpikir.
Lalu semakin lama, semuanya semakin membelenggu. Mengikatku dalam ikatan yang takkan lepas. Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul : sampai kapan? Lalu hidup menjawab, sampai segalanya tertata rapi.
Ini hidupku, tetapi mengapa dikontrol setiap orang yang masuk ke dalam hidupku?
Tak pernah mendesah, segala keluh kesah yang ingin kuungkapkan. Segalanya, yang tak pernah menghargai jerih payahku. Menghargai setiap perjuangan yang kupertahankan sepenuh hati.
Bukannya tidak beralasan, tetapi tak pernah ada yang mau mendengar penjelasanku.
'Tidak', selalu kata itu yang kudengar. Pernahkah kau bertanya 'mengapa?' Atau paling tidak, berilah aku waktu. Kesempatan untuk menjelaskan bagaimana aku akan memperjuangkan pilihanku.
Aku ini aku. Hidupku, bukan milikmu. Aku menjalani hidupku, dan aku tahu apa yang terbaik untukku sekarang. Tapi tak ada yang pernah memahami segala sesuatu yang kulakukan.
Kebebasan. Mungkinkah kudapatkan kebebasan yang kuinginkan. Perlukah aku mengorbankan seluruh hidupku demi keegoisanmu? Sudah cukupkah mengendalikan hidupku?
Lalu, pernahkah berpikir untuk menghargai seluruh karyaku? Pernahkah bertanya apa mimpiku untuk masa depanku?
'Jangan terus bermimpi' itu katamu.
Jatuhkan saja semua bintangku. Hancurkan semua mimpiku. Sapu semua khayalanku untuk masa depanku.
Aku tidak menginginkan uang, atau apapun. Aku hanya menginginkan hidupku.
Akankah kudapatkan? Atau aku hanya akan terus terdiam?
Tuesday, October 25, 2011
Kenapa? Atau Bagaimana?
Setiap kali jariku menari di atas huruf-huruf keyboard, pikiranku bekerja. Apa lagi yang akan kutuangkan, apa yang akan kutulis. Segala sesuatunya terasa datar, normal seperti biasanya. Sempat terpikir, kapan aku akan mempunyai masa-masa bahagia seperti dulu, penuh kejutan yang tak pernah kusangka.
Sahabat-sahabat yang tak pernah pergi.
Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa rasanya masa-masa sekolah dengan sahabat-sahabat seperti itu yang kuinginkan untuk sepanjang hidupku. Tanpa beban, tanpa tanggung jawab seberat ini. Berat rasanya mengetahui hidupmu dikontrol oleh lingkunganmu. Entah kenapa, rasanya aku terjebak lagi. Kata lagi inilah yang membuatku bingung. Entah bagaimana, atau mengapa, kata lagi ini selalu terngiang-ngiang di benakku.
Terjerat, terikat, atau terjebak? Atau diriku sendiri yang menjebak kehidupanku. Lalu teringat pertanyaan salah satu sahabatku "kenapa menjalaninya kalau tidak suka?"
Hei, ini hidup. Siapa tahu apa yang akan terjadi nantinya? Mungkin saja aku terlepas, atau mungkin aku terjerat selamanya. Pilihan hidup. Mungkin benar aku telah memilih untuk menyelam ke dalam hidup yang tidak menyenangkan ini. Tapi, paling tidak aku masih mempunyai tujuan hidup. Well, sederhana saja, tujuan hidupku adalah bahagia.
Aku masih berpikir, bagaimana aku bahagia? Rasanya, segalanya harus kukorbankan. SEGALANYA. Pengorbanan itu memang penting, tapi, bagaimana jika pengorbananku sia-sia? Aku mempercayakan segalanya pada kehidupanku, pilihan hidupku, meskipun bukan keinginanku. Aku meletakkan kepercayaanku di ujung hidupku. Dan sekali kepercayaan itu terjatuh, aku tahu aku akan hancur berkeping-keping.
Lagi-lagi aku mengeluh, mengenai kehidupanku. Mengerti pemikiranku? Tak ada seorang pun yang mengerti. Bahkan orang yang disebut belahan jiwa, juga takkan mengerti. Pengorbanan, keyakinan, kepercayaan, segalanya sudah kulakukan. Dan aku hanya terdiam, menunggu dan tak berdaya. Akankah pengorbanan ini membuahkan hasil? Atau malah mengecewakan?
Hu-ah, rasanya hati ini tercabik-cabik ya? Dirajam beribu belati yang selalu siap untuk menyerangku kapan saja. Segalanya terpendam. Bersuara, tetapi aku bisu. Susah ya? Mendengar tetapi tetap tuli. Melihat dan aku masih saja buta. Mencoba menjelaskan, tapi takkan ada yang peduli, apalagi mencoba mengerti. Aku yang harus mengerti. Lalu, mengapa harus aku? Kenapa bukan dirimu? Kenapa bukan dia saja yang harus mengerti? Kenapa selalu aku yang harus menerima segalanya dan kenapa selalu aku yang dipojokkan? Kenapa selalu aku yang akhirnya tak berdaya dan hanya boleh diam dan menerima?
Pertanyaan "kenapa" ini selalu berujung dengan "bagaimana". Bagaimana agar aku bahagia?
Aku masih berpikir, bagaimana aku bahagia? Rasanya, segalanya harus kukorbankan. SEGALANYA. Pengorbanan itu memang penting, tapi, bagaimana jika pengorbananku sia-sia? Aku mempercayakan segalanya pada kehidupanku, pilihan hidupku, meskipun bukan keinginanku. Aku meletakkan kepercayaanku di ujung hidupku. Dan sekali kepercayaan itu terjatuh, aku tahu aku akan hancur berkeping-keping.
Lagi-lagi aku mengeluh, mengenai kehidupanku. Mengerti pemikiranku? Tak ada seorang pun yang mengerti. Bahkan orang yang disebut belahan jiwa, juga takkan mengerti. Pengorbanan, keyakinan, kepercayaan, segalanya sudah kulakukan. Dan aku hanya terdiam, menunggu dan tak berdaya. Akankah pengorbanan ini membuahkan hasil? Atau malah mengecewakan?
Hu-ah, rasanya hati ini tercabik-cabik ya? Dirajam beribu belati yang selalu siap untuk menyerangku kapan saja. Segalanya terpendam. Bersuara, tetapi aku bisu. Susah ya? Mendengar tetapi tetap tuli. Melihat dan aku masih saja buta. Mencoba menjelaskan, tapi takkan ada yang peduli, apalagi mencoba mengerti. Aku yang harus mengerti. Lalu, mengapa harus aku? Kenapa bukan dirimu? Kenapa bukan dia saja yang harus mengerti? Kenapa selalu aku yang harus menerima segalanya dan kenapa selalu aku yang dipojokkan? Kenapa selalu aku yang akhirnya tak berdaya dan hanya boleh diam dan menerima?
Pertanyaan "kenapa" ini selalu berujung dengan "bagaimana". Bagaimana agar aku bahagia?
Subscribe to:
Comments (Atom)