Thursday, May 19, 2011

Antonim

Tahu rasanya tersakiti?
Bagaimana seulas rasa yang tadinya lebih manis dari gula, lalu berubah menjadi pahit, sampai-sampai menghilangkan rasa lainnya.
Saat tersakiti, segala sesuatu yang ada dihadapan memuakan. Apa sih yang sedang terjadi? Atau, apa lagi yan akan terjadi?
Juga, kenapa harus seperti ini? Mengapa ini terjadi padaku?
Pikirkan lagi, bagaimana bertahan dalam serangan badai yang begitu dashyat? Membuat segalanya terombang-ambing, terlempar kesana kemari, tak pernah jelas arah dan tujuannya. Alasannya? Jangan ditanya. Takkan ada yang tahu.
Tanya saja pada Tuhan, Tuhan hanya terdiam mendengarkan.
Di saat seperti ini, yang bisa kita lakukan hanya menyalahkan. Menyalahkan apapun yang bisa disalahkan.
Lalu berpikir lagi, kenapa Tuhan hanya diam? Kenapa Tuhan tidak bertindak dan menunjukkan jalan yang benar?
Lagi-lagi menyalahkan.
Pernahkah terpikir bagaimana Tuhan merencanakan segala sesuatunya dengan baik.

Setelah tersakiti, kebahagiaan datang menjemput.
Apa yang kita lakukan? Menenggelamkan diri dalam kebahagian. Tak pernah tahu bahwa kita masih perlu mencari jalan. Jalan menuju kebahagiaan abadi.
Ingat saat kita dicintai? Juga mencintai?
Segala sesuatunya sempurna. Perasaanmu. Kebahagiaanmu. Segalanya.
Seakan-akan dialah orang terpenting dalam hidupmu.

Bagaimana keadaannya? Apa yang sedang ia lakukan?
Apakah ia juga memikirkanku? Apakah ia juga merindukanku seperti aku merindukannya?
Ingat bagaimana harum tubuhnya yang membuatku begitu nyaman saat bersamanya.
Ingat bagaimana genggaman tangannya yang hangat, dan erat seakan-akan ia takkan melepaskanku.
Teringat suaranya yang akan terngiang sepanjang saat, hingga aku terlelap.
Teringat bagaimana perhatian dan pengertian yang ia tunjukkan kepadaku.
Segalanya. Dan ia menjadi bagian terpenting dalam hidupku yang enggan kulepas.

Monday, May 16, 2011

kini berujung

Kudengar suara air memecah
Kau kah itu?
Keputusan telah kubuat
Apa yang kupikirkan?
Memilihmu, menimbang segalanya dengan baik
Membayangkan segala sesuatu yang mungkin terjadi
Kau, dan aku, kini menjadi satu, kita
Tak ada lagi perih yang kurasa
Takkan ada lagi keegoisan cinta
Dimana segalanya berujung kau dan aku, lagi
Dan aku tak pernah bosan,
Bagaimana perlakuanmu yang kau lakukan berulang-ulang
Perkataanmu yang kudengar berulang-ulang
Tulisanmu yang kubaca berulang-ulang
Tetap saja mengukir senyum dalam jiwa,
Mengumbar sejuta cinta yang kauberi
Tirai kalbu telah berubah menjadi pelangi
Segalanya berubah
Senyuman kini tulus
Tak ada lagi kebohongan
Kepercayaan dan keteguhan hati yang kau ajarkan
Tak ada lagi rasa curiga
Sempurna, untuk sebuah hubungan yang baru saja lahir
Menyangka akan seperti ini sebelumnya? Tidak
Bahkan tak pernah terpikirkan
Siapa sangka aku akan berujung bersamamu?
Tapi inilah hidup, segala sesuatunya menjadi mungkin
Inilah cinta, segalanya karena cinta
Aku berdiri di sini
Kenyamanan yang kurasakan
Rasa yang tak pernah kupunya sebelumnya
Kepercayaan dan keyakinan akan kemustahilan yang kau ajarkan
Ketulusan kasih tanpa syarat yang kusangka takkan pernah kudapatkan
Semua menjadi nyata
Saat ini, sekarang, denganmu