Untuk sahabat,
Aku menulis kata-kata. Hanya untukmu. Meski tidak sempurna, dan tentunya banyak kesalahan, tapi aku menulis sepenuh dan setulus hatiku. Yang ingin aku sampaikan.
Ingatkah seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menjadi sahabat?
Terhitungkah berapa jam yang telah kita habiskan untuk bersama-sama?
Terhitungkah berapa menit yang kita habiskan untuk merindukan satu sama lain?
Ingatkah bagaimana kita saling menolong satu sama lain tanpa pamrih?
Ingatkah bagaimana kita membela satu sama lain saat terpojok?
Terhitungkah berapa hari kita lewatkan dengan canda dan tawa?
Ingatkah bagaimana saat kita menangis bersama?
Ingatkah bagaimana kita saling membenci tapi kita masih dapat saling memaafkan dan melangkah bersama lagi?
Ingatkah bagaimana kita membagi cerita dan pengalaman tentang hidup? Pahit dan manis yang kita rasakan. Kesalahan yang kita lakukan. Kebenaran yang kita bela?
Ingatkah setiap liku jalan yang kita lalui untuk mencapai impian kita? Meski kita harus berpisah seperti sekarang.
Tapi tetap ada kasih dan rindu dalam setiap hati kita. Bagaimana kita dulunya. Seberapa dekat kita dahulu. Seberapa tegar kita menjalani hidup. Seberapa hebat kita melawan sesuatu yang seharusnya tidak kita lawan, tapi kita mempertahankan benteng kita. Sampai akhirnya benteng itu runtuh dan kita mengalah. Selalu ada hal baru yang kita pelajari bersama. Selalu ada hal baru yang menjadi pengalaman berharga kita. Setiap langkah yang kita derapkan, meninggalkan jejak baru. Jejak yang membuat kita semakin mengenal dunia. Betapa kejamnya dunia yang kita hadapi. Mendewasakan diri kita dalam berbagai aspek. Membuka pikiran kita saat kita menghadapi sesuatu yang baru.
Hidup kita masih panjang, kawan. Pelajari apa yang dapat kita pelajari. Selagi waktu kita masih ada, setiap langkah yang kita derapkan, setiap udara yang kita hirup, setiap gerakan yang kita lakukan, setiap kata yang kita baca, setiap kata yang kita dengar, setiap orang yang kita temui, setiap pelajaran yang kita pelajari, akan menorehkan pengalaman baru bagi kita. Pelajaran baru untuk pengetahuan dan wawasan kita. Membuka mata dan pikiran akan dunia itu penting. Semakin banyak kita belajar dan mengetahui tentang hidup, semakin sukses kita nantinya. Jangan pernah menyerah akan apa yang sudah kita perjuangkan untuk mencapai impian. Setiap langkah yang sudah kita lakukan adalah pondasi kita untuk mencapai tujuan hidup. Kita sedang menyusun rangka dari hidup kita. Perlahan-lahan, tapi pasti. Suatu saat, hidup kita akan megah. Tiada duanya. Berada di bawah itu wajar, terjatuh karena hidup itu wajar. Tapi bukan berarti kita menyerah. Tetap semangat, melalui tantangan yang sedang kita hadapi. Tetap berdiri tegar, menghadapi kehancuran yang rasanya benar-benar menjatuhkan. Semua dapat diperbaiki, selalu. Kita akan tetap berdiri tegar, berjalan, memikul seluruh beban dan tantangan.
Ingat saja bagaimana kita bergandengan menjunjung impian kita. Ingat saja bagaimana kita menceritakan mau jadi apa kita setelah besar nanti. Ingat saja sebesar apa impian kita saat kita kecil dulu. Saat kita kecil kita berani bermimpi, kenapa sekarang tidak berani bermimpi? Ingat saja bagaimana kita mengangkat satu sama lain saat kita jatuh. Ingat saja bagaimana kita mendorong satu sama lain saat kita tak kuat lagi untuk berdiri. Ingat saat kita saling membahu untuk mencapai kelulusan. Ingat saat kita belajar bersama untuk menghadapi ujian. Ingat saat kita berhasil mencapai tujuan kecil kita untuk lulus ujian. Ingat saat kita menangis bersama karena kelulusan bersama kita, atas hasil kerja keras yang kita lakukan.
Meski kita terasa jauh, tapi percayalah, semua untuk masa depan yang kita impikan dari dulu. Untuk kesuksesan hidup, menjadi dewasa dan sukses. Berjuang, kawan! Kita tetap mempunyai tujuan yang sama, SUKSES! Hanya saja dengan jalan yang berbeda.
Love, xoxo,
Ve. Yang kangen berat sama kalian. :**
Tuesday, February 8, 2011
Friday, February 4, 2011
Andai Saja
Entah terajam, tercabik beribu, berjuta belati. Kini hanya menjerit, menahan rasa sakit. Seulas kalimat yang diucapkan. Terngiang di benakku. Kata per kata yang terdengar sangat jelas, meski tak ada yang mengucapnya tepat di telingaku. Hanya saja, setiap kata yang diucapkannya begitu berarti, kini lenyap. Tak berarti lagi.
Kenangan yang telah terjadi, ditetapkan takkan terulang lagi. Sekarang, maupun nanti. Dalam mimpi, apalagi pada kenyataan hidup. Perjalanan kini kulalui perlahan. Terseok-seok mengikuti arus. Arus yang harus kukejar. Karena aku telah bermimpi terlalu banyak, berharap terlalu tinggi. Terseret arus ke masa lalu. Terbuai dengan segala kenangan yang telah terjadi, dan harapan yang mungkin terjadi.
Mungkin sebagian orang, sebagian besar, menganggapku bodoh. Mengaharapkan hal yang takkan mungkin terjadi lagi. Sebagian diriku menolak. Harapanku besar, dulunya. Aku percaya, suatu saat, aku akan mencapainya. Bersama dengan impianku, harapanku, yang selalu membuatku tersenyum. Bermimpi lebih.
Namun segalanya berubah. Tidak. Tidak mungkin lagi. Segalanya. Kini aku harus bertahan saja, atau aku akan terseret kembali, pada masa lalu. Tapi yang kali ini berbeda, kali ini, tanpa harapan. Tanpa impian. Kosong. Kupikir, andai saja saat itu. Andai saja aku dapat kembali. Andai saja aku tidak melepaskan. Tapi kata 'andai saja' ini kosong. Meski 'andai saja' menjadi dua kata yang sangat adiktif. Segala sesuatunya terlihat mudah dengan berandai-andai. Tapi tetap saja, nihil.
Tak ada lagi yang akan terjadi. Tak dapat berharap lagi. Terkubur. Meski aku tak mampu menguburnya. Terseret. Meski aku tetap bertahan tak ingin melepasnya, hingga terus terseret arus bersama kenangan. Terbuang. Meski aku tahu, aku tetap akan mengais-ngais tempat sampah untuk mencarinya.
Bagaimanapun, saat kembali lagi ke masa2 tertentu, terkuak kembali. Dan kata 'andai saja' selalu berputar di pikiranku, terngiang di benakku. Anda saja aku dengan mudah dapat melepaskan. Atau, andai saja saat itu aku tidak melepaskan dan memilih untuk menerima.
Kenangan yang telah terjadi, ditetapkan takkan terulang lagi. Sekarang, maupun nanti. Dalam mimpi, apalagi pada kenyataan hidup. Perjalanan kini kulalui perlahan. Terseok-seok mengikuti arus. Arus yang harus kukejar. Karena aku telah bermimpi terlalu banyak, berharap terlalu tinggi. Terseret arus ke masa lalu. Terbuai dengan segala kenangan yang telah terjadi, dan harapan yang mungkin terjadi.
Mungkin sebagian orang, sebagian besar, menganggapku bodoh. Mengaharapkan hal yang takkan mungkin terjadi lagi. Sebagian diriku menolak. Harapanku besar, dulunya. Aku percaya, suatu saat, aku akan mencapainya. Bersama dengan impianku, harapanku, yang selalu membuatku tersenyum. Bermimpi lebih.
Namun segalanya berubah. Tidak. Tidak mungkin lagi. Segalanya. Kini aku harus bertahan saja, atau aku akan terseret kembali, pada masa lalu. Tapi yang kali ini berbeda, kali ini, tanpa harapan. Tanpa impian. Kosong. Kupikir, andai saja saat itu. Andai saja aku dapat kembali. Andai saja aku tidak melepaskan. Tapi kata 'andai saja' ini kosong. Meski 'andai saja' menjadi dua kata yang sangat adiktif. Segala sesuatunya terlihat mudah dengan berandai-andai. Tapi tetap saja, nihil.
Tak ada lagi yang akan terjadi. Tak dapat berharap lagi. Terkubur. Meski aku tak mampu menguburnya. Terseret. Meski aku tetap bertahan tak ingin melepasnya, hingga terus terseret arus bersama kenangan. Terbuang. Meski aku tahu, aku tetap akan mengais-ngais tempat sampah untuk mencarinya.
Bagaimanapun, saat kembali lagi ke masa2 tertentu, terkuak kembali. Dan kata 'andai saja' selalu berputar di pikiranku, terngiang di benakku. Anda saja aku dengan mudah dapat melepaskan. Atau, andai saja saat itu aku tidak melepaskan dan memilih untuk menerima.
Subscribe to:
Comments (Atom)