Friday, September 9, 2011

Harapan yang nyaring

Langkahku terseret. Entah apalagi yang harus kujalani. Tadinya kupikir ini akan berlangsung begitu saja, lalu terlewat bahkan tanpa kusadari, seharusnya segalanya telah lewat. Namun yang kurasakan sekarang adalah, semuanya telah melampaui kekuatanku. Sampai berapa lama aku harus bertahan dalam belenggu. Tanpa akhir, tanpa sebuah kejelasan. Kepastian? Minus. Segalanya meragukan. Mulai bertanya-tanya, bagaimana kalau aku tak sanggup. Apa yang akan terjadi jika aku tiba-tiba meninggalkan semuanya. Impian, kehidupan. Semuanya. Aku benci saat terangkat ke atas, lalu tiba-tiba terjatuh, hancur berkeping-keping, lalu terseret arus kuat yang bahkan tanpa tujuan.

Aku benci. Aku tak ingin. Aku tak pernah menginginkan segala sesuatu yang telah terjadi saat ini. Lalu, apa yang kulakukan untuk bertahan rasanya sia-sia. Tak ada hasil yang pasti, segala impian yang tadinya kupikir hanya tertunda, nyatanya takkan dapat lagi kuraih. Kosong. Harapan-harapan ini semakin nyaring saja bunyinya. Kemana impianku pergi? Ingin tertawa. Menertawakan impianku yang terlalu tinggi. Mimpi apa yang masuk akal, tapi tak dapat kujangkau? Kalau kupikir lagi, pintu sudah terbuka sangat lebar untukku, menuju masa depan impianku. Tetapi ada saja angin yang membanting pintu impian. Kejam memang. Tapi itulah dunia. Segala kemunafikan yang ada takkan terdeteksi.