Wednesday, August 3, 2011

Grande Roue - Spektoradego (I)


Pagi itu mendung, langit muram dan cuaca dingin, menusuk ke dalam tulang. Hujan rintik-rintik membasahi jaket seorang perempuan yang masih berjalan lunglai. Tak tampak setitik semangat dalam raut mukanya. Jalannya lunglai, seakan-akan akan terbawa angin. Perempuan itu masuk ke dalam Cafe langganannya. Lalu duduk di sofa kesayangannya. Seseorang datang membawakan secangkir Mochaffee yang setiap pagi di minum oleh perempuan itu. Sharon namanya.

"Seperti biasa ya, Sharon. Mochaffee untukmu. Dua sendok gula ditambah susu dan coklat bubuk," kata orang yang menyajikan minuman untuk Sharon setiap hari.
"Yah, cukup untuk menenangkan seluruh pikiranku, Rose," jawabnya kepada Rose, nama orang tersebut, yang tak lain adalah pemilik Cafe tersebut.
"Masih belum berpikir untuk mencari pekerjaan lain?,"
Sharon menggelengkan kepalanya. Lalu mendesah. Rose pun berlalu. Pertanyaan yang sama selalu diajukan kepada Sharon, dan jawaban mengecewakan yang sama selalu ditunjukkan olehnya. Bukannya Rose tak pernah peduli. Sharon yang setiap pagi dan sore selalu datang ke Cafe nya, sudah dianggapnya sebagai sahabat. Bahkan Sharon sering menghabiskan waktunya di Cafe tersebut sampai malam.

Sharon mengeluarkan telepon genggamnya dari kantong jaket birunya yang selalu dipakainya. Yah, itu bukan jaketnya, tetapi jaket kekasihnya yang diberikan oleh kekasihnya tiga tahun yang lalu sebelum kekasihnya merantau ke Negeri lain.
Sharon selalu membaca email yang dikirimkan kekasihnya setiap pagi.
"Selamat pagi, cantik. Aku harap kamu baik-baik saja pagi ini. Hari ini aku ada pertandingan bola antar-kampus, doakan aku menang ya. Aku juga mendoakanmu agar kamu selalu ceria setiap hari seperti kamu yang biasanya. Tetap semangat ya! Kita akan bertemu segera. "
Sharon tersenyum, segera membalas email tersebut. Walaupun email yang tidak terlalu panjang, tetapi Sharon selalu terkesan dengan rangkaian kata Kevin.

Seulas senyum tidak terlalu bertahan lama, saat waktu terus berjalan. Sudah waktunya Sharon untuk kembali bekerja. Sharon menghabiskan Mochaffeenya dan pergi keluar dari Cafe menuju kantornya. Kantornya bukan kantor yang besar, tetapi orang-orang yang bekerja di dalamnya itu 'sok besar' istilahnya.

Sharon terdiam, memandangi sudut meja kerjanya yang selalu penuh dengan kertas. Berserakan kemana-mana, dan tak pernah ada orang yang peduli seberapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan Sharon. Ia menatap tajam tak tentu arah. Pandangannya terkunci pada satu titik, dan pikirannya berputar kesana kemari, tak tentu arah. Segalanya bersarang di dalam pikirannya.

Sebenarnya Sharon tak tahan lagi dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang. Tidak ada yang pernah menghargai perkerjaannya, sekali pun. Pekerjaannya bertumpuk, hampir setiap hari Sharon lembur karena pekerjaannya yang tak kunjung habis, ditambah lagi dengan pekerjaan yang sisa dari orang-orang yang menganggap dirinya hebat. Selama ini Sharon hanya diam. Gajinya tidak seberapa, tetapi Sharon selalu berusaha yang terbaik menyelesaikan pekerjaannya, meskipun pekerjaan yang bukan miliknya. Sharon selalu berpikir bahwa suatu saat seseorang akan menghargai hasil kerjanya. Tetapi tak seorangpun sadar. Setiap pekerjaan yang dikerjakannya di klaim oleh orang lain. Dan selama dua tahun, bukan Sharon yang dihargai, tetapi orang sok hebat itu yang dihargai. Orang itu dipromosikan hingga naik jabatan, gajinya sudah naik empat kali lipat dari dua tahun yang lalu. Padahal selama ini perkerjaannya dikerjakan oleh Sharon.

Ah, sudahlah. Sharon tak pernah sudi membahas tentang orang itu. Yang kini Sharon pikirkan adalah, bagaimana caranya Sharon keluar dari belenggu ini. Bukannya tidak bisa, tetapi orang itu bukan hanya sekedar 'orang'. Orang itu, memberinya memori yang buruk. Pengalaman yang takkan pernah terlupakan. Dan berkat itu, orang itu dengan mudahnya mengacam Sharon. Jack namanya. Laki-laki paling brengsek yang pernah ia temui.

Kali ini Sharon ingin bersikap tegas, tetapi selalu gagal. Sharon tidak memiliki keberanian yang cukup. Satu-satunya yang dapat diharapkan oleh Sharon adalah Kevin. Kevin adalah satu-satunya orang yang dapat dipercayanya. Yang menghargai Sharon layaknya perempuan. Selama 5 tahun menjalin hubungan, tak pernah sekalipun Kevin mencoba untuk menyentuhnya. Kevin mengetahui seluruh masalah Sharon dengan Jack. Dan Kevin berjanji akan melepaskan belenggu Sharon. Dan Sharon tetap menunggu. Tahun depan, Kevin akan pulang kembali ke Indonesia. Sharon percaya akan Kevin.