Tahu rasanya tersakiti?
Bagaimana seulas rasa yang tadinya lebih manis dari gula, lalu berubah menjadi pahit, sampai-sampai menghilangkan rasa lainnya.
Saat tersakiti, segala sesuatu yang ada dihadapan memuakan. Apa sih yang sedang terjadi? Atau, apa lagi yan akan terjadi?
Juga, kenapa harus seperti ini? Mengapa ini terjadi padaku?
Pikirkan lagi, bagaimana bertahan dalam serangan badai yang begitu dashyat? Membuat segalanya terombang-ambing, terlempar kesana kemari, tak pernah jelas arah dan tujuannya. Alasannya? Jangan ditanya. Takkan ada yang tahu.
Tanya saja pada Tuhan, Tuhan hanya terdiam mendengarkan.
Di saat seperti ini, yang bisa kita lakukan hanya menyalahkan. Menyalahkan apapun yang bisa disalahkan.
Lalu berpikir lagi, kenapa Tuhan hanya diam? Kenapa Tuhan tidak bertindak dan menunjukkan jalan yang benar?
Lagi-lagi menyalahkan.
Pernahkah terpikir bagaimana Tuhan merencanakan segala sesuatunya dengan baik.
Setelah tersakiti, kebahagiaan datang menjemput.
Apa yang kita lakukan? Menenggelamkan diri dalam kebahagian. Tak pernah tahu bahwa kita masih perlu mencari jalan. Jalan menuju kebahagiaan abadi.
Ingat saat kita dicintai? Juga mencintai?
Segala sesuatunya sempurna. Perasaanmu. Kebahagiaanmu. Segalanya.
Seakan-akan dialah orang terpenting dalam hidupmu.
Bagaimana keadaannya? Apa yang sedang ia lakukan?
Apakah ia juga memikirkanku? Apakah ia juga merindukanku seperti aku merindukannya?
Ingat bagaimana harum tubuhnya yang membuatku begitu nyaman saat bersamanya.
Ingat bagaimana genggaman tangannya yang hangat, dan erat seakan-akan ia takkan melepaskanku.
Teringat suaranya yang akan terngiang sepanjang saat, hingga aku terlelap.
Teringat bagaimana perhatian dan pengertian yang ia tunjukkan kepadaku.
Segalanya. Dan ia menjadi bagian terpenting dalam hidupku yang enggan kulepas.
No comments:
Post a Comment