Wednesday, November 10, 2010

Misty Hearings

Aku terbaring di tengah kamarku.
Berdiam diri, merasakan kesendirian.
Mencoba mendengar alam.

Jam dinding berdetak.
Gerakan jarum yang berjalan dan berhenti tiba-tiba,
menimbulkan suara setiap hitungan detik.
Setiap 60 kali berjalan dan berhenti,
terdengar dua suara jarum bersamaan,
itu jarum menit.

Burung berkicau di luar jendela kamarku,
bertengger di atas ranting pohon yang hampir botak,
dengan beberapa kuntum bunga berwana merah.
Mencoba merasuki lebih dalam,
kepakan sayap sang burung terdengar.
Gerakan sayapnya cepat,
seperti terjadi dentuman antara sayap dan tubuh mungilnya.

Telingaku mencoba mencari suara lain yang tersembunyi.
Air mengalir.
Bukan mengalir seperti sungai.
Tapi, suara percikan air.
Yang jatuh dari permukaan jalan,
ke dalam saluran air.

Aku kembali terpaku pada nikmatnya alam.
Dan aku mulai berpikir,
andai saja aku dapat melebur dengan angin,
mengitari ruang tak terbatas ini,
dunia yang begitu agung tercipta.

Andai saja aku dapat mengalir bersama air,
mengitari setiap sela2 permukaan tanah
yang menjadi pijakan manusia setiap harinya.
Tanah yang sangat kuat
dan mampu menopang segala sesuatu di atas bumi.

Andai saja aku dapat menjadi tanah.
Dipercayai setiap manusia untuk menjadi pijakannya.
Dan tetap tegar walau dilanda badai sekalipun.

Andai saja,,,
tapi tidak mungkin.
Yang kuhadapi sekarang memang badai,
tetapi aku hanya seorang manusia.
Yang mungkin tidak tegar saat dilanda badai,
tetapi aku tetap melakukan yang terbaik,
bertahan dalam badai,
bahkan aku masih mungkin menari dalam badai.

No comments:

Post a Comment