Dan saat segalanya hampir sempurna, menuai segala mimpi yang tadinya pupus, kekecewaan pun menghampiri seperti biasanya. Tak bisakah membiarkan aku menjalani mimpi dengan cinta dan kasih yang kudambakan?
-------------------------------------------------------------------------------------
“Pernahkah cintamu jatuh pada orang yang tepat?,” tanya Rose kepada Alex.
Alex tertawa, mengukir sedikit senyuman pada bibirnya. Ia membelai rambut Rose dan berkata, “Pada orang yang tepat? Aku rasa aku sudah jatuh cinta pada orang yang tepat.”
Pipi Rose memerah, tersipu akan kata-kata Alex yang begitu manis. Lalu tersenyum memandang Alex, penuh arti.
“Ada apa?,” kini giliran Alex yang bertanya.
Rose tetap tersenyum, mengunci pandangannya pada kekasihnya itu. Aku harap kamu tahu betapa aku mencintaimu dan selalu ingin bersamamu.
“Akankah kita bersama selamanya?,” Rose bertanya ragu.
“Ya, sampai kita mempunyai cucu dan cucu kita mempunyai anak, kita akan bersama selamanya,” jawab Alex yakin.
-------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin kebahagiaan seperti ini yang pernah aku rasakan. Dengan kasih yang rasanya takkan pernah padam, dan cinta yang selalu membuatku berbunga-bunga. Tahukah rasanya? Mungkin Alex bukan laki-laki paling sempurna yang pernah kutemui, yah, tidak ada seorang pun yang sempurna. Dan mungkin ini bukan kisah cinta yang sempurna seperti dalam dongeng klasik. Tidak, itu terlalu naïf. Tetapi Alex yang memberi arti dalam hidupku, meyempurnakan setiap langkahku, melengkapi kekuranganku yang takkan pernah menjadi sempurna. Alex yang memunguti setiap keping hatiku dan membenahnya menjadi utuh. Tanpanya, aku kehilangan. Mungkin ketika ia pergi, separuh jiwaku telah hilang, dan tak pernah kembali. Aku masih tak pernah mengerti, kenapa ia harus pergi? Dan bagaimana aku akan hidup tanpanya.
-------------------------------------------------------------------------------------
No comments:
Post a Comment