Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Pengkhotbah 3:11
He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end. Ecclesiastes 3:11
Well, bagaimanapun ayat ini adalah ayat pertama yang benar-benar mengubah hidupku.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Saat aku jatuh, Ia membiarkan aku terjatuh,
kenapa?
Mempelajari segala sesuatu yang dianggapNya perlu kupelajari.
Sehingga aku tidak akan terjatuh untuk yang kedua kalinya.
Ia menyelamatkan aku tepat pada waktunya.
Hari ini.
Rasanya hatiku tersentuh.
Seakan-akan aku mendengar suaraNya, "percayalah."
Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Apakah aku harus percaya?
Masih ragu, ragu-ragu aku percaya.
Dulu hidupku rasanya sempurna.
Segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang kubayangkan.
Nyaris sempurna.
Tapi sekarang, nyaris mati.
Mungkin kata yang lebih tepat, nyaris hopeless.
Tidak ada tujuan yang jelas.
Yang jelas, terombang ambing.
Tertarik kesana, didorong lagi kesini.
Disuruh begini, lalu katanya, harusnya begitu.
Bingung? Sangat.
Lalu aku bertanya lagi, mungkin kalian menganggapku gila, aku bertanya pada diriku sendiri, sering berbicara sendiri, mungkin setiap saat.
Apa yang akan aku lakukan?
Bagaimana caranya?
Kapan?
Sampai kapan?
Bodoh memang, tapi apa lagi yang bisa kulakukan?
Bertanya kepada Tuhan, tidak ada jawaban.
Kalau percaya, belum ada.
Aneh.
Kenapa Tuhan ga membuat hidupku seperti dulu?
Nyaris sempurna, tujuan dan arah yang jelas.
Seperti yang kuimpikan?
Dulu, ya.
Sekarang, tidak.
Tapi ada lagi yang kudengar, "jalankan saja."
Lalu kujalani saja.
Sekarang, tetap saja kembali.
Pilihan.
Bodoh sekali.
Aku lupa kalau dalam hidup, tetap ada beberapa pilihan.
Dan pada saat yang tepat, harus memilih.
Kalau tidak tepat, berantakan.
Kalau tepat, hidupmu menuju nyaris sempurna.
Tapi perbandingannya seperti 1:100.
1 pilihan tepat, 100 pilihan tidak tepat.
Rentan, memang.
Pilihan ini seperti, hmm,, menembak dengan menutup mata?
Tidak, aku rasa lebih parah lagi.
Ini masalah mempertaruhkan masa depan.
Seumur hidupmu, untuk membunuh waktumu hingga waktu di dunia habis.
Bukan sekedar mempertaruhkan nyawa.
Ini lebih, jauh lebih penting dan, sensitif?
Untuk kesekian kalinya, tetap saja, akan kubiarkan cerita ini mengambang dulu.
Lord I give You my heart, I give You my soul, I live for You alone.
Every breath that I take, every moment I'm awake, Lord have Your way in me.
I believe in You Lord.
Hold my hands, cuddle me, and take me to the place where I belong.
No comments:
Post a Comment