Saturday, November 27, 2010

Crack and Turn into pieces

Ah, begitu banyak yang berseliweran kesana kemari di pikiranku. Semakin kupikir, semakin sakit kepalaku. Kupertanyakan lebih dalam, mencari tahu jawaban, hatiku tercabik, batinku terkikis. Kalau direnungkan, perlukah? Sepertinya tidak akan merubah keinginanku. Aku bertahan, salah. Sangkanya, keras kepala. Aku berubah, juga tidak benar.Tidak berpendirian, kelihatannya.

Jadi? Ntahlah.


Jiwaku tertekan, batinku berteriak. Seluruh pertanyaan berkecamuk. Semua suara yang kukenal bertumpuk, sahut menyahut, menyuruhku untuk ini dan itu, tak ada satupun yang terdengar jelas. Aku terpeleset, jatuh. Seperti terjun bebas dan tampaknya, masih lama lagi aku akan mencapai dasar lubang yang bodoh ini. Melayang tak tentu arah. Gelap? Jelas.


Masih lebih mending jika aku sudah sampai di dasar lubang. Paling tidak, aku dapat mencari jalan keluar untuk pelan-pelan memanjat dari pinggir lubang ini. Tapi sampai sekarang aku belum melihat dasar dari lubang ini. Masih jauhkah?


Kalau terus menerus seperti ini, mungkin aku harus tetap diam dan bertahan. Menikmati kegelapan yang ada selagi aku terus terjun di dalam lubang yang bahkan aku tidak tahu seberapa dalam. Lucu memang, menikmati kegelapan? Bagaimana bisa?


Selain menikmati kegelapan, aku juga harus bersiap-siap menghadapi rasa sakit yang luar biasa saat aku sampai di dasar nanti. Pasti aku akan retak. Mungkin bukan retak lagi. Dengan angin dingin yang terus menerus menerpa dari kegelapan, menusuk setiap inci tulangku. Mungkin tulangku sudah retak saat ini, rapuh. Dan sesampainya aku di dasar, kalau aku tidak hancur berkeping-keping, mungkin aku sudah menjadi abu dan terbang bersama angin.

1 comment: